KH Abdul Majid, Pendiri Pesantren Cigaru yang Kharismatis

Lebih seabad lalu, tepatnya tahun 1910, seorang santri kelana asal Klangon, Karanganyar, Kebumen, memenuhi permintaan Karmanom, lurah Desa Cibeunying, untuk mendirikan sebuah masjid di padukuhan Cigaru. Kala itu, sebagaimana banyak kawasan Cilacap, Cigaru adalah tanah berawa di kaki bukit yang penuh pohon-pohon besar, sungai-sungai yang masih bening seperti mimpi, dan binatang liar sesekali masih muncul dari gugusan pegunungan yang membentang dari Majenang sampai Kuningan. Santri kelana itu bernama Abdulmajid, seorang lelaki dengan kepribadian kuat dan kemampuan hikmah, sehingga atas izin Allah ia mampu menaklukkan makhluk halus yang banyak berdiam di daerah itu.

Ia mendirikan masjid dari kayu, bambu dan beratapkan ilalang di kawasan rawa Ru’um Cigaru, diikuti oleh enam orang santri dari daerahnya—Salaman, Dimun, Salam, Sairodi, Mad Kamam dan Yasir (Jakfar & Riyanto, 1980). Kemudian para santri itu tinggal bersama Kiai Abdulmajid, makan dan minum dari mengerjakan lahan pertanian milik kiai dan para penduduk di sekitar pesantren, serta mengaji dengan perlengkapan seadanya. Seiring waktu, ibadah dan pengajian mereka menarik perhatian masyarakat sekitar; dengan rasa penasaran dan malu-malu, masyarakat mulai berdatangan ke masjid sederhana itu, mendengar pengajian dan merasakan kharisma sosok Kiai Abdulmajid. Pada tahun 1920, pondok untuk para santri baru mulai didirikan, kitab-kitab digelar layaknya tikar, dan ilmu memancar menyerupai pijar lentera. Dari masjid beratap ilalang itulah sejarah Pesantren Cigaru dimulai.

Pada saat itu Indonesia masih berupa bayangan segelintir kaum terpelajar dan para ulama yang memiliki ketajaman batin. Bukan kebetulan jika sejarah Pesantren Cigaru di masa kemudian berkaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan republik ini. Kaum santri pada dasarnya adalah jaringan global yang telah dirajut selama beradab-abad (Lombard, 2005; Azra, 1993). Mereka saling bertukar bahasa, wawasan, perdagangan dan perkawinan, serta produk-produk pemikiran dan artistik bernilai tinggi seperti serat-serat, aneka tembang, komposisi musik dan cerita epik (Florida, 2003). Ketika jaringan itu diarahkan untuk melawan penjajah yang berbeda keyakinan, melukai kedaulatan dan martabat kemanusiaan, Pesantren Cigaru ikut dalam perjuangan yang panjang, berkelok-kelok dan penuh tantangan, seperti kontur pegunungan di daerah itu. Terlebih saat itu penguasa Belanda tengah memperlakukan kontrol ketat terhadap politik Islam termasuk pesantren (Suminto, 1986) setelah perlawanan para santri pengikut Pangeran Diponegoro membuat bangkrut VOC melalui Perang Jawa (1825-1830).

Madrasah Diniyah Pesantren Cigaru

Sebagai pendiri pesantren, sosok Kiai Abdulmajid merupakan pusat dari kehidupan komunitas yang dibinanya. Memang, pesantren merupakan komunitas religius yang berpusat pada kiai (Dzofier, 1994) sebagai figur kharismatis dan suci, di mana irama hidup sehari-hari para santri dimulai dan diakhiri oleh beliau, mulai peletakan batu pertama masjid hingga ketika masjid itu telah dikelilingi sejumlah pondokan, mulai fajar hingga waktu istirahat malam tiba. Dalam komunitas itu, para santri membentuk kebiasaan, membuat nilai-nilai, menentukan orientasi dan perilaku yang khas (Wahid, 2000), sehingga bersemi budaya khas kaum santri yang selalu mengacu pada figur, dimulai dari kiai mereka sendiri, para guru dari kiai mereka, para ulama yang mengarang kitab-kitab mereka, hingga berpuncak pada Rasulullah. Demikianlah komunitas itu membentuk peta silsilah sebagai jalur pewarisan ilmu dan adab, yang mekar mulai Makkah sampai Andalusia di ujung Eropa hingga Kesultanan Ternate di ujung timur Nusantara, layaknya sebuah pohon peradaban dunia—dan salah satu buahnya jatuh di Dusun Cigaru.

Di kaki gunung yang rimbun dan kawasan rawa, bertahun-tahun Kiai Abdulmajid yang kharismatis dan keramat itu mengelola komunitasnya seorang diri, sementara orang-orang yang mengaji semakin hari semakin banyak. Bersama usianya yang semakin senja ia mengharap terdapat seorang pembantu dan pengganti yang bisa meneruskan perjuangannya sekaligus penerus dari mata rantai keilmuan dan hikmahnya. Dan Allah memberi informasi bahwa di desa tetangga, tepatnya Desa Limbangan, terdapat seorang pemuda bernama Sufyan Tsauri tengah merintis pengajian sepulang belajar dari pesantren besar di Jawa Timur. Gayung bersambut, Sufyan Tsauri dengan senang hati bersedia mengajar di Pesantren Cigaru untuk membantu Kiai Abdulmajid yang telah sepuh.

Sebagaimana Kiai Abdulmajid, riwayat Sufyan Tsauri adalah kisah seorang santri kelana dari pohon silsilah ilmu dan kerabat para ulama. Ia lahir pada Ahad, 1 Syura, 1316 H/Minggu 22 Mei 1898, cucu ulama kelana dari Madura bernama Imam Bukhari dan putra Kiai Abdulghani dari Desa Banjareja, Nusawungu, Cilacap. Pada usia 2 tahun, orang tuanya membawa Sufyan kecil ke Limbangan, Wanareja. Tetapi nasib malang rupanya segera menimpa Sufyan kecil; tak lama setelah tinggal di Limbangan, ia  ditinggal oleh ibunya dan selang beberapa waktu kemudian oleh ayahnya, untuk selama-lamanya. Yatim-piatu itu kemudian diasuh oleh bibinya hingga berusia 11 tahun untuk kemudian diasuh oleh kakak ayahnya, Kiai Bakri, di desa kelahiran orang tuanya di Banjarreja, sambil mulai belajar ilmu keagamaan secara lebih seksama di Pesantren Tritih, Cilacap. Pada usia 15 tahun, Sufyan remaja berangkat ke Pesantren Lirap, Kebumen, untuk belajar tata bahasa tingkat lanjut kepada Kiai Ibrahim.

Seusai di Pesantren Lirap, layaknya pemuda yang tekun dan gigih, Sufyan remaja mendapat rekomendasi dari Kiai Ibrahim untuk melanjutkan belajar ke Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur. Dalam perjalanannya ke Tremas, Sufyan sempat mengaji kilatan di Pesantren Jamsaren, Solo, selama kurang lebih 2 bulan. Ia menghabiskan waktu selama 6 tahun untuk belajar di Pesantren Tremas di bawah bimbingan KH Dimyati yang masyhur itu. Ketika itu, Tremas tengah berada pada masa kejayaan sebagai sebuah pesantren. Teramat banyak kiai dari tanah Jawa dan Sumatra merupakan alumni dari pesantren ini sehingga sebagaimana lazimnya pesantren besar ia menjadi tempat persemaian ilmu, hikmah dan adab yang penting.

Sebagai santri terpelajar lulusan pesantren yang masyhur, Sufyan memperkenalkan pengajian yang lebih sistematis, intensif dan ekstensif di Pesantren Cigaru yang kala itu masih amat sederhana. Ia memborong materi pengajian mulai tata bahasa, aqidah, hukum, filsafat hukum (ushul fiqh) dan tasawuf. Dengan ragam materinya itu, Kiai Sufyan dapat dikatakan seorang ulama yang lengkap penguasaan ilmunya serta ikhlas memberi kepada para santri sesuai tingkat pemahaman dan kebutuhannya. Menurut buku yang ditulis para alumni (Jakfar & Riyanto, 1980), di aula pesantren terdapat jadwal pengajian yang menunjukkan pada setiap waktu sehabis shalat terdapat kegiatan pengajian yang diisi oleh Kiai Sufyan, untuk berbagai level dan kelompok umur. Sebagai seorang guru yang tekun dan gigih, menurut penuturan almarhum KH Habib Adnan (alumni Pesantren Cigaru dan mantan ketua MUI Bali), Kiai Sufyan dikenal sebagai sosok yang tegas dalam memegang pendirian, terutama terkait hukum. Karakter tersebut tampak jelas pada jalan perjuangannya di masa-masa kemudian.

Menyaksikan Sufyan mengajar dengan tekun dan gigih, Kiai Abdulmajid lantas menikahkan  dia dengan puteri tertuanya, Marhamah, seorang perempuan dengan karakter yang sama kuatnya dengan suaminya. Ini adalah keputusan tepat yang dibuat oleh Kiai Abdulmajid, di mana pesantren yang mulai berkembang diteruskan oleh menantu yang mumpuni secara keilmuan serta memiliki bakat kepemimpinan. Setelah menjadi menantu Kiai Abdulmajid, Sufyan merasa ilmunya masih kurang, meski sebenarnya sudah cukup sekedar untuk mengelola pesantren yang sedang berkembang. Ia lantas memutuskan untuk menuntut ilmu lagi dengan berangkat menuju almamaternya, Pesantren Tremas, selama 3 tahun lamanya. Setelah itu ia kembali lagi ke Cigaru dan menunaikan ibadah haji bersama istrinya, Nyai Marhamah, pada tahun 1927.      

Ketika berangkat menunaikan ibadah haji—masa itu masih menggunakan kapal laut—Kiai Sufyan menyempatkan diri singgah di Singapura dan Malaysia untuk bersilaturahmi pada adik KH Abdulmajid, KH Abdussomad, yang telah menetap dan menjadi ulama di Sabak Bernam, Selangor. Awalnya, nama KH Abdussomad adalah Mufrod, dan sesuai kebiasaan masa itu lantas diganti dengan Abdusssomad sepulang beribadah haji ke tanah suci; ia singgah di Selangor, tinggal dan menikah di sana, serta menjadi warga Negara negeri jiran. Salah seorang putra KH Abdussomad, Muhammad Salamun (ayah Dr Slamet Riyanto—mantan Dirjen Haji dan pembina Yayasan Sufyan Tsauri), rupanya terkesan dengan sosok dan cerita KH Sufyan Tsauri tentang perkembangan pesantren di Jawa sehingga kelak ia memutuskan menimba ilmu di Pesantren Tremas, Pacitan, almamater KH Sufyan. Sepulang dari pesantren, Kiai Salamun  tinggal di Cigaru, membantu kakaknya mengasuh pondok pesantren.

Berkembangnya Pesantren Cigaru dan Gerilya Perang Kemerdekaan

Di tangan Kiai Sufyan Tsauri inilah Pesantren Cigaru mencapai perkembangan yang pesat dengan jumlah santri mencapai 800-an orang, baik dari daerah Banyumas, Sumatra, bahkan dari luar negeri seperti Singapura dan Malaysia. Tak heran jika pada saat itu Pesantren Cigaru merupakan pesantren utama di kawasan Banyumas. Selain jumlah santri, Kiai Sufyan Tsauri juga membawa pengaruh Pesantren Cigaru hingga di luar bidang keagamaan seperti sosial dan politik dengan ikut secara aktif dalam perang melawan penjajahan. Tak terbayangkan, bahwa dari dusun Cigaru yang terpencil dan penuh rawa di kaki bukit di tengah pulau Jawa, mereka mampu memenuhi panggilan sejarah dengan sepenuh hati serta didukung dengan kecakapan yang dibutuhkan baik politik maupun militer untuk terlibat dalam perjuangan fisik dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Pada tahun 1942  tentara Jepang dibawah pimpinan Jenderal Imamura menyerbu Indonesia dan pada 9 Maret Belanda menyerah kepada Jepang yang kemudian menjajah secara kejam dengan melakukan kerja paksa dan memberangus semua organisasi yang sebelumnya pernah berdiri di masa penjajahan Hindia-Belanda. Beruntung, Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) sebagai organisasi umat Islam sekaligus cikal-bakal Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi), dengan tokoh utama KH Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo dan Muhammad Natsir, tetap diperbolehkan hidup oleh penguasa Jepang. Adapun posisi KH Sufyan Tsauri saat itu adalah Ketua Dewan Syura Masyumi Cilacap.

Melihat keadaan politik internasional yang parah, di mana Jepang mengalami tekanan dari Sekutu Amerika Serikat dalam Perang Dunia II, para tokoh Masyumi meminta kepada Jepang untuk mendirikan badan organisasi militer bagi anggotanya. Tujuannya, jika sewaktu-waktu terjadi perang, rakyat telah siap melakukannya. Jepang memenuhi permintaan itu dengan mendirikan PETA (Pasukan Sukarela Pembela Tanah Air) pada 1944, termasuk mengizinkan berdirinya faksi militer umat Islam bernama Hizbullah pada 1945. Pada tahun yang sama, sebagai sesepuh Masyumi Cilacap, KH Sufyan Tsauri segera membentuk laskar Hizbullah di daerahnya. Ia mengirim sejumlah santrinya antara lain Syaifurrahman Suwandi (ayah Komisaris Jenderal Nur Faizi Suwandi—mantan Kapolda Metro Jaya, Kabareskrim Polri dan Dubes RI untuk Mesir), Ahmad Ghozali (ayah Mayjen Cholid Ghozali—mantan Ketua PERCASI dan Baitul Muslimin Indonesia), Habib Adnan (mantan ketua MUI Bali), Al Muhdzier, Lukman Daroni dan Soehari untuk mengikuti pelatihan-pelatihan militer. Sowandi mengikuti pelatihan militer selama 3 bulan di Cisarua, Bogor, sedangkan 5 santri yang lain ikut pelatihan di Dai Dan PETA Kroya dan Sumpiuh di bawah Jenderal Soedirman.


Pelatihan militer untuk rakyat ini akan menjadi bekal yang sangat berharga bagi bangsa ini pada masa selanjutnya. Pada tanggal 14 Agustus Jepang menyerah kepada Sekutu sehingga terjadilah kekosongan kekuasaan dan kesempatan itu segera digunakan oleh Soekarno-Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Pemerintahan baru Republik Indonesia lantas membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang di dalamnya terdapat para tentara gabungan dari PETA, Heiho dan Hizbullah. Para santri Pesantren Cigaru yang telah mengikuti pelatihan militer di Cisarua, Kroya dan Sumpiuh pun ikut bergabung bersama para prajurit Heiho dan PETA dalam wadah BKR.

Pada masa itu terdapat sebuah peristiwa dramatis di Majenang. Para pemuda BKR mendapati konvoi 40 kendaraan Jepang disertai kendaraan lapis baja. Hampir saja konvoi itu diserbu oleh para pemuda, namun Jenderal Gatot Subroto menurunkan perintah pelarangan penyerbuan sehingga urung terjadi pertempuran. Setelah peristiwa itu para pemuda Hizbullah Majenang yang dipimpin Suwandi lantas berangkat ke Purwokerto untuk mengikuti tes kesehatan sebagai anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Mereka inilah yang kemudian mendapat tugas singkat sebagai prajurit tambahan yang mengawal Jenderal Soedirman yang dengan wibawa beliau membuat Jepang rela melucuti senjatanya melalui perundingan—bukan pertempuran.  Ketika itu Suwandi merupakan komandan wilayah Banyumas Barat sedang Soerono (kelak menjadi Jenderal dan Menko Kesra) di Banyumas Timur (Jakfar & Riyanto, 1980).

Memang, setelah proklamasi kemerdekaan, keadaan Republik Indonesia yang masih seumur jagung tidak lantas mengalami masa damai. Pada tahun yang sama, para tentara Belanda yang telah melarikan diri ke Australia bergabung dalam alinasi Inggris NICA (Nederlandsch Indië Civil Administratie atau Netherlands-Indies Civil Administration/Pemerintahan Sipil Hindia Belanda). Mereka menyerbu kawasan Indonesia dengan kekuatan udara penuh membombardir kota-kota penting republik: Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan Yogyakarta. Keadaan negara semakin gawat, banyak infrastruktur rusak berat. Karena situasi Jakarta genting, ibu kota negara lantas dipindahkan ke Yogyakarta. Sebagai respons terhadap keadaan itu, pada 7 November 1945 Muktamar Umat Islam Seluruh Indonesia di Yogyakarta memutuskan bahwa umat Islam secara fardu ain (berlaku wajib bagi setiap individu) untuk melakukan jihad membela bangsa, negara dan agama dari penjajah. 

Di tengah situasi politik dan militer yang genting, KH Sufyan Tsauri selaku ketua Syuriah Masyumi Cilacap segera memanggil santrinya yang berpengalaman dalam bidang kemiliteran, Suwandi, untuk mengorganisir barisannya serta melakukan konsultasi dengan tokoh politik setempat, Kiai Basir. Segera setelah itu para santri dan pemuda Majenang dikumpulkan dan dikirim ke Cilacap untuk mengikuti pelatihan militer. Selanjutnya pelatihan dilakukan di lingkungan Pesantren Cigaru secara bergelombang. Pasukan dibagi berdasarkan kelompok usia, 35 tahun ke atas dan 35 tahun ke bawah. Dengan cara itu, masyarakat Majenang memiliki bekal untuk melakukan pertemuran fisik jika sewaktu-waktu NICA menyerbu daerah mereka.

Pada bulan November—bulan yang sama dengan Muktamar Umat Islam—Belanda melakukan serangan hebat terhadap beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Pada bulan Desember, 2 kompi pasukan Hizbullah di bawah pimpinan Suwandi berangkat ke Cilacap untuk berkonsultasi dengan Komandan Resimen TKR Moch. Bachrum. Esok harinya mereka berangat ke Ambarawa melalui Yogyakarta dengan menaiki kereta api uap. Dari Yogyakarta rombongan segera menuju Ambarawa. Sampai di daerah Grabag, Magelang, Letkol Abimanyu memerintahkan kepada Suwandi, Habib Adnan, Ahmad Ghozali dan Hamid Sudjadi untuk memasuki Ambarawa dan menyelidiki keadaan kota itu. Ternyata kota telah kosong; para penduduk dan musuh telah mengundurkan diri, dan pasukan dari Majenang segera ditarik kembali dari garis depan.

Setelah pertempuran Ambarawa, dua kompi pasukan dari Majenang berangkat ke kota Bandung yang tengah berlangsung pertempuran hebat melawan NICA hingga dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api. Dua kompi tersebut, di bawah pimpinan Suwandi dan disertai KH Sufyan Tsauri selaku penasehat, berangkat naik kereta api uap dari stasiun Meluwung menuju Bandung dan bermarkas di Kiangroke, Banjaran, Bandung Selatan. Dari sana mereka berjalan menuju garis depan. Di tengah perjalanan, tepatnya di Cicalengka, mereka menghadapi serangan udara hebat dari tentara NICA. Tidak ada pasukan dari Majenang yang terluka dan wafat. Namun, dua orang anggota Laskar Wanita Indonesia (Laswi) terkena ledakan bom dan gugur sebagai pahlawan republik. Setelah 15 hari di garis depan, akhirnya pasukan diperintahkan kembali ke pangkalan. Dalam perjalanan pulang, pasukan melewati jalan-jalan di kawasan perbukitan yang membentang sepanjang tanah Periangan hingga Majalengka, Kuningan, Brebes dan Majenang (Jakfar dan Riyanto, 1980).

Perang yang berkepanjangan antara laskar rakyat dan NICA mengasilkan Perjanjian Renville. Menurut perjanjian itu, wilayah Indonesia dibagi ke dalam wilayah kekuasaan Sekutu dan RI di mana Cilacap masuk Negara Pasundan yang dikuasai Sekutu sehingga Majenang sebagai jalur perlintasan penting segera dikuasai oleh penjajah. KH Sufyan Tsauri merasa kecewa dengan perjanjian itu. Ia memutuskan melakukan perlawanan. Namun, karena persenjataan dan pasukan yang tidak seimbang, perlawanan dilakukan secara bergerilya di pegunungan dengan sesekali melakukan serangan secara sporadis, antara lain terhadap kantor Kawedanan yang menjadi markas NICA. Padahal, keadaan KH Sufyan Tsauri sedang sakit, sehingga ia memimpin gerilya dengan ditandu sepanjang puluhan kilometer melwati gugusan pegunungan dan hutan belantara, demi menghindar sambil terus melakukan perlawanan penjajah.

Pada 4 Februari 1948, laskar Hizbullah dan TKR Majenang diperintahkan untuk hijrah menuju Banjarnegara yang masih dikuasai oleh tentara republik. Namun, sakit parah yang diderita KH Sufyan Tsauri membuat ia memutuskan untuk tetap bertahan di markasnya di pegunungan. Karena kesehatan beliau yang semakin hari semakin berat, akhirnya KH Sufyan Tsauri menerima permintaan untuk pulang ke pesantren. Pada awal bulan Februari 1948 atau tepatnya Senin, 22 Rabiul Awwal, KH Sufyan Tsauri dan pasukannya meninggalkan markasnya di pegunungan Salem, Brebes, menuju Majenang, Cilacap. Sepanjang perjalanan melewati Gunung Kendeng, KH Sufyan Tsauri senantiasa tawakkal di atas tandunya, sambil terus diiringi kalimah thayyibah dari para prajurit dan penduduk yang mengiringi beliau. Sesampai di Gunungjaya, karena keadaan beliau yang semakin berat, rombongan memutuskan untuk beristirahat di sebuah surau di desa itu. Dan di suaru itulah, di tengah-tengah para prajurit, laskar dan penduduk yang mendampinginya bergerilya selama lebih kurang dua bulan, keadaan KH Sufyan Tsauri tak tertolong lagi. Akhirnya beliau dipanggil oleh Allah Swt dalam usia 50 tahun (Jakfar & Riyanto, 1980).

Dengan ditandu oleh para prajurit dan santri terbaiknya, jenazah KH Sufyan Tsauri dibawa dari Gunungjaya ke Pesantren Cigaru, melewati lembah dan gunung, sungai dan hutan, sepanjang kurang lebih 50 kilometer. Dzikir dan kalimat thayyibah dari para prajurit, santri dan penduduk tak henti-henti mengiringi jenazah pemimpin yang kharismatis, teguh dan tak kenal kompromi dengan penjajah itu. Awan di langit menjadi ilustrasi perasaan duka yang teramat dalam, pula pohon-pohon besar dan kecil yang berdiri di sepanjang jalan berkelok serta semak belukar yang memenuhi hutan. Jenazah KH Sufyan Tsauri tiba di Pesantren Cigaru pada sore hari dan dimakamkan pada keesokan harinya di kaki bukit sebelah utara pesantren.

Perjalanan gerilya KH Sufyan Tsauri beserta para santri dan masyarakat Majenang dalam rangka menghadapi Agresi Militer Belanda menempuh rute pegunungan, lembah, sungai dan hutan, kampung-kampung dan galur-galur persawahan, menempuh jarak kurang lebih 150 kilometer. Secara berurutan, gerilya dimulai dari Pesantren Cigaru menuju ke arah barat melalui Gerumbul Cibabas, Babakan; kemudian ke Sarongge, Raja Wetan, Kroya, Awi Ngambang, Gempalan; lalu ke arah timur laut melalui Cikadu Tonggoh, Ciborok, Sepatnunggal, Tembong, Sadabumi, Gunung Jaya, Parakan Panjang, Gunung Tajem di kawasan pegunungan yang berkelok; turun lagi menuju Selanegara, Ciiris Turu, lalu ke Cungging, Tembong Raja, Sungai Cigunung, kemudian naik lagi ke Gunung Garu Sari di daerah Salem, Kabupaten Berebes, dan bermarkas di sana. Ketika itu, Garu Sari adalah daerah yang hanya dihuni oleh 10 rumah. Dengan kedatangan KH Sufyan dan rombongan gerilyanya, daerah itu lantas diberi nama Garu Sari, gabungan dari nama Cigaru dan Sindangsari—desa di Majenang Timur  dimana kepala desa dan para pemudanya banyak yang ikut bergerilya (Khalieqy, 2016).

Pesantren Cigaru Menghadapi Masa Sulit dengan Penataan Kelembagaan

Selama ditinggal bergerilya oleh KH Sufyan Tsauri beserta keluarga, santri, prajurit, laskar dan penduduk Majenang, pengajian di Pesantren Cigaru praktis mengalami kekosongan. Beliau memerintahkan kepada adik iparnya, Kiai Salamun, untuk menjaga pesantren dan melaporkan jika terjadi suatu hal (Khalieqy, 2016). Dapat dibayangkan, betapa Kiai Salamun harus mempertahankan jiwa-raganya di tengah peperangan mengingat pesantren sering menjadi sasaran serangan tentara NICA (bertahun-tahun kemudian ketika telah mencapai masa damai di sekitar pesantren ditemukan sejumlah selongsong mortir). Kondisi pesantren yang masih sederhana, kebanyakan dari bamboo dan kayu, banyak mengalami kerusakan karena tidak adanya kegiatan, dari sebelumnya dihuni oleh sekitar 800 orang tiba-tiba tidak ada orang dan kegiatan sama sekali. Harta benda juga telah banyak berkurang antara lain untuk membeli senjata. Menurut penuturan Asifuddin, anak Mahfudz putra ketiga KH Sufyan Tsauri, orang tuanya menjual cukup banyak tanah untuk keperluan membeli senjata, antara lain ke Surabaya yang juga berlangsung pertempuran serupa lewat pertempuran 10 November.

Sepeninggal KH Sufyan Tsauri, Pesantren Cigaru mengalami masa fatroh, yaitu masa kekosongan. Para santri telah pergi dari pesantren akibat perang, sementara putra-putri KH Sufyan Tsauri yang berjumlah 8 orang masih remaja dan belum siap memmpin pesantren. Di tengah situasi tersebut, Kiai Salamun adik dan pembantu KH Sufyan Tsauri meneruskan kepemimpinan pesantren dengan membuka pengajian dari awal, serta menikah dengan Hj. Djauhariyah, putri kedua KH Abdulmajid. Bertahun kemudian, putra sulung KH Sufyan, KH Djarir Sufyan pulang dari Pesantren Lirboyo, Kediri. Bersama KH Salamun pamannya, KH Djarir Sufyan mulai membuka pengajian bersama. Perlahan-lahan para santri mulai berdatangan lagi meski masih jauh dari jumlah di masa hidup KH Sufyan.

Pada tahun 1960, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden membubarkan Partai Masyumi  karena diduga mendukung Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Banyak dari eks laskar Hizbullah yang berafliasi ke DI/TII, sehingga pemerintah Orde Lama melakukan penangkapan terhadap sebagian dari mereka. Sialnya, Kiai Salamun yang tidak berpartisipasi dengan DI/TII menjadi korban penangkapan dan dipenjara selama 2 tahun di Nusakambangan. Namun, karena ternyata tidak terbukti mendukung DI/TII, kemudian beliau dibebaskan kembali. Menurut penuturan Dr Slamet Riyanto, putra Kiai Salamun, nasib yang dialami oleh ayahnya tidak lepas dari friksi ideologi di tubuh militer saat itu antara tentara yang berafiliasi dengan Masyumi dan komunis. Padahal justru pada masa pemberontakan DI/TII Pesantren Cigaru sering mengalami teror dan sabotase dari tentara Kartosuwirjo. Mereka mengambil beras dan hasil bumi lain untuk dibawa ke hutan. Dalam sebuah kisah, Ibu Ny. Hj. Marhamah, janda almarhum KH Sufyan Tsauri, didatangi beberapa tentara muda  DI/TII. Ibu Nyai Sufyan hanya diam mendengarkan ceramah mereka tentang Negara Islam/Darul Islam. Setelah para prajurit itu berhenti bicara, Ibu Nyai lantas bilang, “Kalian anak muda tahu apa tentang agama dan negara. Lebih baik sekarang kalian makan tege (sayur bening khas Banyumas) di rumahku!” Para tentara muda itu pun terdiam. Memang, Ibu Nyai Sufyan dikenal sebagai pribadi yang kuat, tegas dan sangat disegani masyarakat pada masa hidupnya.

Jika merunut silsilah keluarga dan keilmuan KH Sufyan Tsauri dan Kiai Salamun, pihak pemerintah seharusnya tidak menaruh curiga terhadap mereka. Keterlibatan mereka di Partai Masyumi pada dasarnya terkait dengan jaringan santri di mana banyak para ulamanya, antara lain KH Hasyim Asyari dan KH Wahid Hasyim, berada dalam partai itu. Ketika para ulama tersebut keluar dari Masyumi pada 1952 dengan mendirikan Partai Nahdlatul Ulama, praktis afiliasi mereka dengan Partai Masyumi terputus, terlebih-lebih dengan DI/TII yang haram bagi para santri melakukan pemberontakan terhadap pemerintah RI. Terbuki, perolehan suara Partai NU pada Pemilu 1955 di Majenang terhitung tinggi.

Posisi NU di Majenang pada masa kemudian semakin menguat ketika putra KH Sufyan Tsauri, yaitu KH Djarir Sufyan, ikut memperkenalkan dan mendukung keberadaan NU secara kelembagaan, termasuk ketika NU memutuskan keluar dari politik dengan berfokus pada bidang keagamaan, pendidikan dan sosial—dikenal dengan istilah khittah. Ketua Umum PBNU ketika itu, mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, pada tahun 1984 berkunjung ke Pesantren Cigaru dalam rangka menghadiri Konferensi NU. Sebagai rasa hormat dan cinta kepada beliau selaku Ketua PBNU dan cucu Hadratusyaikh KH Hasyim Asyari, putra dari KH Hafidz Sufyan yang lahir bertepatan dengan kehadiran Gus Dur di Pesantren Cigaru diberi nama seperti nama beliau, yaitu  “Abdurrahman” (Adung).

Pada tahun 1951, bekas markas Hizbullah di pusat kota Majenang dijadikan sebagai SMP Islam Majenang, sekolah menengah tertua di kota itu. Pada 17 Juli 1960, Al Muchdzier selaku alumni Pesantren Cigaru yang dahulu mengikuti pelatihan militer dan gerilya, memprakarsai pertemuan para santri KH Sufyan Tsauri di SMP Islam Majenang. Dalam kesempatan itu hadir para santri dari Angkatan 45 dengan diwakili oleh Fathurrahman Suwandi dan Al Muchdzier sendiri, serta dari unsur para ulama yaitu KH Solehan (Pahonjean), KH Bahruddin (Nyakra; santri dan besan KH Sufyan), Kiai Salamun (Cigaru; adik ipar KH Sufyan, menantu dan keponakan KH Abdulmajid), KH Jarir Sufyan (putra sulung KH Sufyan), H. M. Jakfar (Cigaru), Ranadiwirya (Sindansari), K. Maksudi (Sindangsari), KH Maslah (Salebu), Fahrurrozi dan Dewan Guru SMP Islam Majenang. Pertemuan tersebut dipimpin oleh Suwandi, membahas mengenai legalisasi tanah pesantren dan SMP Islam Majenang serta penyusunan rancangan AD/ART Yayasan KH Sufyan Tsauri. Tiga tahun kemudian, pada 1963, diselenggarakan musyawarah kembali yang memutuskan bahwa SMP Islam Majenang merupakan aset yayasan serta persiapan legalisasi ke notaris/PPAT.

Proses legalisasi yayasan mengalami perlambatan mengingat keadaan politik sedang memburuk hingga berpuncak pada peristiwa Gekaran 30 September 1965 (G/30/S). Pada 26 Mei 1968 dilakukan reuni pertama para alumni Pesantren Cigaru yang dihadiri oleh ribuan umat Islam dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Selain dihadiri para para santri juga warga dan tokoh masyarakat dengan dipelopori orang-orang yang terlibat dalam perjuangan KH Sufyan. Dalam reuni tersebut mulai disusun buku sejarah perjuangan KH Sufyan Tsauri (yang menjadi sumber utama penulisan artikel ini), pembentukan Yayasan Pendidikan Islam KH Sufyan Tsauri dengan akta Notaris Soetardjo Suryoatmodjo di Puwokerto No. I/1968.  Dengan demikian, Pesantren Cigaru telah memulai langkah pengembangan diri dari pesantren sebagai—dalam istilah sosiologi Weberian— “paguyuban” yang dibentuk berdasarkan ikatan batin layaknya lembaga tradisional (gemeinschaft) menuju “patembayan” sebagai lembaga berdasarkan sistem dan struktur organisasi layaknya lembaga modern (gesselschaft). 

Dalam pengembangan kelembagaan tersebut, pihak yayasan melakukan kajian dengan studi banding ke Pesantren Pertanian Darul Fallah, Ciampea, Bogor pada 16 November 1975. Berdasarkan studi tersebut tampak semangat untuk mendesain yayasan sebagai lembaga pendidikan yang mandiri dengan pembangunan pertanian dan sumberdaya manusia yang terampil. Dari sana lantas diputuskan perubahan nama Pesantren Cigaru diubah menjadi “Pesantren Pembangunan” dengan Pesantren Cigaru I “Miftahul Huda” sebagai pusat (diasuh KH Djarir Sufyan dan KH Muhlis Sufyan), Pesantren Cigaru II “Miftahul Anwar”  (diasuh KH Munawwir, santri KH Sufyan Tsauri) dan Pesantren Nyakra “Mathlabul Anwar” (diasuh KH Bahruddin, santri dan besan KH Suyan Tsauri serta mursyid tahriqah Naqsabandiyah). Peresmian nama “Pondok Pesantren Pembangunan” dilakukan pada 2 Februari 1976 oleh Bupati Cilacap H RYK. Mukmin dengan Ahmad Ghozali sebagai ketua panitia penyelenggara.  

Potret tersebut memberi gambaran mengenai usaha pesantren di mana di satu sisi tetap melanjutkan tradisi Islam klasik dengan materi pengetahuan dan pengajaran khas pesantren, pentingnya nilai-nilai spiritual dengan adanya tarekat, dan di sisi lain mulai menyadari pentingnya penataan kelembagaan secara modern. Hal tersebut sesuai dengai kaidah filsafat hukum Islam (ushul fiqh) yang populer di kalangan NU: “Al-muhaafadzu alaa qadiimi ashalih wal akhdzu bi al-jadiidi al-ashlah” atau melestarikan warisan lama yang baik dan menambah hal baru yang lebih baik lagi.

Namun, pada masa Orde baru, penggunaan nama “Pesantren Pembangunan” mengandung problem tersendiri. Di satu sisi, kata “pembangunan” mengandung asosiasi dengan agenda pembangunan (developmentalism) pemerintah Orde Baru—sebuah desain perencanaan pertumbuhan ekonomi yang dirancang Walt W. Rostow sesuai artikel The Take-Off Into Self-Sustained Growth (Economics Journal; Maret, 1956) yang kemudian dikemas menjadi Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) oleh para teknokrat Orde Baru. Dalam hal ini, nama “pesantren pembangunan” tampak identik dengan pemerintah Orde Baru. Namun, di sisi lain nama tersebut juga identik dengan “Partai Persatuan Pembangunan” sebagai partai berbasis ideologi Islam dengan simpatisan dari Masyumi, PII dan NU. Dalam hal ini, nama “pesantren pembangunan” dianggap sebagai “oposisi dalam sistem” terhadap pemerintah Orde Baru sehingga sering dicurigai pihak penguasa pada masa itu. Padahal, sebagaimana dijelaskan di muka (studi banding ke Pesantren Pertanian di Ciampea, Bogor), nama tersebut berangkat dari usaha pengembangan pesantren berdasarkan sumberdaya lokal masyarakat Majenang. Adapun secara politik, Pesantren Cigaru sesantiasa mengambil posisi non-partisan.

Di samping perkembangan kelembagaan, Pesantren Cigaru perlahan-lahan mulai tumbuh kembali. Sepeninggal Kiai Salamun sebagai paman, orang tua asuh dan partnernya, KH Djarir Sufyan mendedikasikan diri sepenuhnya untuk mengajar para santri dan warga masyarakat, baik anak-anak, remaja/pemuda, serta para kesepuhan. Masing-masing kelompok usia mendapat materi pengajian sendiri, sama seperti di masa KH Sufyan Tsauri masih hidup. Di masa KH Djarir ini pula mulai diberlakukan Madrasah Diniyyah pada sore dan malam hari dengan memperkenalkan model penjenjangan berdasarkan kelas seperti sistem di Pesantren Tebuireng, bukan hanya pengajian individu (sorogan) dan publik (bandongan). Bersamaan dengan itu, tugas mengajar KH Djarir mulai mendapat bantuan dari adik-adinya yang mulai lulus dari pesantren. KH Muhlis Sufyan lulus dari Pesantren Ploso dan KH Bahruddin Sufyan dari Lirboyo, keduanya di Kediri. Juga KH Hafidz dari Pesantren Tegalrejo, Magelang. Ibu Ny Hj. Djauhariah, istri almarhum Kiai Salamaun, telah membuka pesantren putri pada tahun 1970-an, 4 tahun sebelum ditinggal oleh suaminya (1974).

Bersama dengan waktu yang terus berjalan, generasi berikut mulai selesai belajar di pesantren dan menjadi tenaga pengajar baru yang segar. Putra-putra KH Djarir Sufyan memulai kiprahnya di pesantren, KH Salim Djarir (alumni Pesantren Lirap, Kebumen dan Pesantren Ploso, Kediri) dan KH Mustajib Djarir (alumni Pesantren Ploso, Kediri) mengajar di pesantren putra, setelah anak sulungnya Ny. Hj. Bidayah (alumni Pesantren Krapyak, Yogyakarta dan Pesantren Lasem, Rembang) dan suminya KH Munaji Abdul Qohar (alumni Pesantren Tegalrejo, Magelang) telah lebih dulu membuka pesantren putri dengan spesialisasi kajian Al-Quran pada tahun 1982. Dua adik mereka, Ny Habibah Djarir (alumni Pesantren Lirboyo, Kediri) dan suaminya KH Mazin (alumni Pesantren An-Nawawi,  Purworejo) serta Ny. Hamidah Djarir (alumni Pesantren Al Hikmah, Brebes dan Pesantren Maron, Purworejo) dan sumainya K Munir (asisten Syeh Mas’ud, Kawunganten, Cilacap) membuka pesantren putri dan kelas penghafal Al-Quran, masing-masing pada 2014 dan 2016. Adapun KH Mahrus Salamun meneruskan pesantren putri yang didirikan ibunya, Ny. Hj. Djauhariyah, dengan dibantu para pendidik dari keluarga, di samping berperan besar mengembangkan MTs Pembangunan, Cigaru.  Tak terasa, jumlah santri di Pesantren Cigaru telah mencapai 800-an orang, menyamai jumlah di masa hidup KH Sufyan Tsauri.

Namun, jumlah santri tersebut belum seberapa dibandingkan jumlah sumberdaya manusia yang bergiat di Yayasan KH Sufyan Tsauri yang telah berkembang pesat secara kelembagaan. Tak terasa yayasan telah memiliki banyak lembaga pendidikan mulai usia dini sampai perguruan tinggi: 1 buah sekolah TK Miftahul Huda, 1 buah sekolah Madrasah Ibtidaiyyah Pesantren Pembangunan Cibeunying, 4 buah sekolah setingkat SMP masing-masing SMP Islam Majenang, SMP Islam Caruy, MTs Pesantren Pembangunan Majenang, MTs YPI Limbangan, 1 buah sekolah aliyah MA Pesantren Pembangunan Majenang, dan 1 buah perguruan tinggi Sekolah Tinggi Agama Islam Sufyan Tsauri (STAIS) Majenang. Selain lembaga pendidikan juga didirikan Koperasi Miftahul Huda dan Bank Amanah Miftahul Huda. Jika dijumlahkan, manusia yang terlibat di Yayasan Pendidikan Islam Sufyan Tsauri, baik sebagai pengajar, staf dan siswa, mencapai lebih kurang 5000 orang.  Peran Dr H. Slamet Riyanto, putra Kiai Salamun, sebagai pembina yayasan juga perlu dicatat terutama dalam perbaikan kelembagaan dan infrastruktur pendidikan untuk para santri dan warga masyarakat.   

Upacara hari santri Pesantren Cigaru

Selain kegiatan mengaji dan sekolah, Pesantren Cigaru kerap melakukan berbagai pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dan sumberdaya manusia, serta seminar dari para ahli baik dari dalam maupun luar negeri seperti Korea, Jepang, Mesir dan Belanda. Di samping pelatihan juga terdapat kegiatan Ziarah Walisongo dan festival seperti Festival Sedina dadi Wayang 2017 sebagai wahana untuk melestarikan warisan artistik para wali, mendekatkan pesantren dengan masyarakat luas, dan mempertemukan para ahli dengan santri dan warga masyarakat melalui sejumlah pelatihan. Dalam festival tersebut hadir para seniman terkemuka; maestro seni Heri Dono, Nasirun dan Samuel Indratma berkolaborasi memainkan wayang kontemporer. Berbagai inisiatif tersebut muncul bersamaan dengan angin segar pasca reformasi. Arus informasi, mobilitas manusia, barang dan budaya telah bergerak dengan bebas, cepat dan massif, sehingga pesantren perlu memposisikan diri sebagai penyeimbang sekaligus pemimpin bagi masyarakat di sekitarnya.

Dalam rangka memperingati sejarah Pesantren Cigaru yang telah mencapai lebih 100 tahun, sebagian warga Majenang melakukan berbagai kegiatan. Organisasi kepanduan Pramuka Madrasah Aliyah Negeri II Cilacap (dahulu merupakan bagian dari YPI Sufyan Tsauri sebelum menjadi negeri) dan Pramuka SMK Diponegoro sesekali melakukan napak tilas rute gerilya yang dipimpin KH Sufyan Tsauri. Tak ketinggalan, pada setiap Jumat pagi para santri Cigaru melakukan ziarah ke makam KH Abdulmajid dan KH Sufyan Tsauri di kaki bukit sebelah utara pesantren, membaca doa keselamatan untuk para pendiri pesantren sambil mengharap berkahnya. Pada setiap awal bulan Ramadhan penduduk Majenang banyak yang melakukan ziarah untuk menyambut bulan suci dengan membaca doa di makam para ulama pejuang yang suci di kompleks pemakaman yang dikelilingi hutan lindung pesantren—sebagai sumber oksigen dan cadangan air untuk kehidupan para santri dan warga masyarakat. Sebagai monumen berdirinya pesantren, masjid yang dahulu berupa kayu, bambu dan atap ilalang sekarang telah dibangun menjadi lantai 2 dan diberi nama “Masjid Karmal Majid” –gabungan dari nama Abdulmajid (pendiri masjid dan pesantren) dan Karmanom (Lurah Cibeunying yang memohon kepada KH Abdulmajid untuk mendirikan masjid di Dusun Cigaru).

Demikainlah kilasan sejarah Pesantren Cigaru. Sebagaimana pesantren umumnya, ia terkait dengan jaringan besar para ulama yang telah terjalin selama beradab-abad sebagai wahana pewarisan iman, ilmu dan adab,  dan sekarang masih dirawat lewat pengajian dan silaturahmi terus-menerus—termasuk dengan para kerabat di Selangor, Malaysia, yang juga berkiprah dalam dunia pendidikan di negeri jiran. Melalui wahana yang sama, di samping nilai-nilai dan semangat instrinsik yang dimiliki, Pesantren Cigaru dapat aktif pada masa peralihan zaman yang penuh pergolakan dengan terlibat dalam sejarah nasional (perang kemerdekaan) dan global—Perang Dunia II dan lahirnya negara-negara bangsa (nation-states) yang merdeka.

PUSTAKA

Sumber Primer:

Jakfar, Amin dan Riyanto, Slamet; Sejarah Pesantren Cigaru (1980), YPI Sufyan Tsauri;
Khlieqy, Abidah; Santri Cengkir (2016) Arruz Medi
Wawancara: KH Habib Adnan, Dr Slamet Riyanto, KH Salim Djarir, Ny. Hj. Bidayatul Hidayah, Hj. Musrifah, Fauzi Hidayat, H. Asifuddin

Sumber Sekunder:    

Azra, Azzumardi; Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia (2013), Lentera;
Dzofier, Zamahsyari; Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai (2013),  LP3ES
Florida, Nancy; Menyurat yang Silam Menggurat yang Menjelang (2003), Bentang Pustaka dan The Ford Foundation
Lombard, Denys; Nusa Jawa Silang Budaya Jilid II: Jarinagn Asia (2005), Gramedia Pustaka Utama
Rostow, Walt R.  The Take-Off Into Self-Sustained Growth (Maret 1956), Economics Journal 
Suminto, Aqib; Politik Islam Hindia Belanda (1986), LP3ES
Wahid, Abdurrahman; Prisma Pemikiran Gus Dur (2000), LKiS