Syukur adalah salah satu refleksi dari sikap tawakal, sebuah sikap menunjukkan kebaikan dan penyebarannya. Secara syariat, syukur ialah memberikan pujian kepada Allah dengan cara taat kepada-Nya, tunduk  dan berserah diri hanya kepada Allah SWT serta beramar makruf nahi mungkar. Allah berfirman dalam Al-quran:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. ( Q.S Ibrahim,14: 7)

Apabila manusia mau mensyukuri akan nikmat Allah, maka Allah akan menambah nikmat-Nya, dan apabila manusia tidak mau berterima kasih kepada nikmat-Nya, maka sesungguhnya Allah akan mencabut dan juga mengurangi nikmat dari manusia tersebut sebagai hukuman atas kekufurannya.

Coba kita renungkan, betapa banyaknya nikmat yang telah diberikan Allah kepada makhluknya, dari hal kecil yang tidak kita sadari sampai dengan hal besar dan luar biasa yang bahkan dianggap ajaib. Misalnya, oksigen, gas yang bahkan tak berasa dan tak terlihat namun manfaatnya sungguh luar biasa. Tanpa oksigen, mungkin tidak akan ada kehidupan di dunia ini, sedangkan Allah memberikannya secara cuma-cuma dan kita dapat menghirupnya secara bebas. Bukankah Allah Maha Dermawan? Lalu sudah bersyukurkah kita atas nikmat yang telah diberikan oleh-Nya? Bagaimanakah cara mensyukuri nikmat Allah?

Bersyukur memiliki berapa cara: dengan lisan dengan mengakui segala kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah dengan disertai dengan sikap merendahkan hati; bersyukur dengan badan, yakni bersikap selalu sepakat serta melayani (mengabdi) kepada Allah; bersyukur dengan hati, yaitu mengasingkan diri demi menghadapkan hati kepada Allah dengan cara konsisten menjaga dzikir akan keagungan dan kebesaran-Nya.
Sering sekali kita sebagai manusia lalai dalam mensyukuri nikmat Allah dan tidak menyadari bahwa nilai suatu nikmat yang telah dianugerahkan Allah. Kita baru terasa ketika nikmat itu dicabut dari kita. Pada saat seperti itu, barulah kita menyadarinya. Contohnya adalah nikmat berupa kesehatan jasmani dan juga kesehatan rohani. Dalam Al-Quran:

وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

Artinya: “Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (An-Naml ayat 40)

Bunga Iris, karya Vincent van Gogh

Jika seseorang telah bersyukur dengan sungguh-sungguh, dalam lisan, badan dan hati, ia akan memiliki ciri-ciri atau tanda-tanda tertentu: elalu mengerjakan perintah Allah dan selalu meninggalkan segala larangan-Nya, selalu merasa cukup dan puas terhadap nikmat yang Allah berikan kepadanya, senang dan pahitnya kehidupan ia akan tetap selalu merasa puas dan bersyukur.

Orang yang bersyukur  tidak pernah meremehkan pemberian Allah, apapun yang diberikan Allah untuknya ia percaya itulah yang terbaik buat dirinya. Seperti kukurangan harta ataupun musibah yang menimpa dirinya,  ia tetap bersabar dan bersyukur.

Orang yang bersyukur tidak pernah merasa sombong terhadap nikmat hidupnya seperti harta yang berlimpah, jabatan, dan kecantikan. Karena ia percaya bahwa semua adalah titipan Allah yang harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya.

Orang yang bersyukur tidak akan pernah malu terhadap kekurangan fisik yang ia alami dan tidak akan pelit atas apa yang ia punyai. Karena ia yakin semua itu adalah titipan Allah yang diamanahkan kepada dirinya. Orang yang bersyukur juga selalu berterimakasih kepada Allah SWT dengan mengucapkan “ALHAMDULILLAH” (segala puji bagi Allah).

Sudahkah kita menjadi hamba-Nya yang bersyukur, ataukah malah menjadi seorang yang kufur?