Dalam kehidupan sehari hari kita kadang dihadapkan pada dilema ketika mendapati dua amal/pekerjaan karena keduanya sama baiknya satu dengan yang lain. Ibarat jodoh, keduanya terkesan sama-sama indah, pantas dan berbobot. Kita pun merasa bingung memutuskan putusan mana yang terbaik untuk dipilih dan dikerjakan.

Terkait hal tersebut, Syaikh Ibnu Athailah dalam kitab Al-Hikam mengatakan agar hendaknya kita mengerjakan amal yang berat untuk dilakukan menurut hawa nafsu kita. Hal tersebut, menurut Syaikh Athaillah, karena hakikat hawa nafsu adalah selalu bertentangan dengan hal yang hak/benar sehingga amal yang berat baginya mengandung kebenaran yang lebih tinggi.

Mengutip Kitab Al-Hikam Pasal 205:

٭ اِذاَاالتبَسَ عَليْكَ اَمْرَانِ فاَنْظُرْ اَثقَلهُمَا علىَ النَّفْسِ فاتَّبِعْهُ فَاِنَّهُ لاَ يَثْقـُلُ عَليْهَا الاَّ ماَكانا حَقّاً ٭

Bersamaan dengan itu, Syaikh Ibnu Athailah juga menjelaskan bahwa salah satu contoh pekerjaan yang menuruti hawa nafsu adalah ketika seseorang bersegera dalam mengerjakan amal sunah namun malas untuk mengerjakan amal yang wajib.

٭ مِنْ عَلاَمَاتِ اِتّـِباعِ الهوَى المُسَا رَعَة ُاِلىَ نَوَافِلَ الخيْرَاتِ والتّـَكاَسُلُ عنِ القِياَمِ بِالوَاجِباتِ
٭
Contoh mengenai hal tersebut misalnya jika seseorang suka melakukan sedekah tapi tidak melakukan zakat. Sekilas, dua hal tersebut (sedekah dan zakat) adalah sama baiknya. Padahal sedekah itu hukumnya sunah sedang zakat itu wajib. Mengamalkan sunah tapi melupakan amalan wajib merupakan salah satu tindakan yang mengikuti hawa nafsu daripada usaha mematuhi kebenaran.

Magnetism, karya Ahmad Mater