Berikut ini merupakan resume ta’lim rutin mingguan Majelis Darul Hasyimi Ciputat, di Mushalla Al Mukarrom Pondok Hijau, Ciputat, Tangerang Selatan. Kitab yang dibahas minggu ini adalah Kitab Al-Hikam karya Ibnu ‘Athoillah Iskandary r.a disyarahkan oleh Syeikh Abdullah Asy Syarqawi. Duduk sebagai pembahas adalah KH Turmudzi Abdul Mujib, alumni Manzil Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki, Makkah, Saudi Arabia.

Pembahasan kali ini adalah tentang sikap orang arif ketika sedang mengalami khilaf. Disebutkan dalam Kitab Al-Hikam:

Di antara tanda sikap mengandalkan amal ialah berkurangnya harap kepada Allah tatkala khilaf.”

Amal yang dimaksud disini ialah amal ibadah, seperti sholat dan dzikir. Dua kelompok orang yang mengandalkan amalnya atau menggantungkan keselamatan dirinya pada amal ibadah (bukan pada Allah). Yakni golongan orang ‘abid (orang yang tekun beribadah) dan golongan para murid (orang menghendaki dekat dengan Allah).

Golongan pertama menganggap amal ibadah sebagai satu-satunya sarana untuk meraih surga dan menghindari siksaan Allah.

Golongan kedua menganggap amal ibadah sebagai satu-satunya sarana mendekatkan diri kepada Allah. Ia menganggap mampu menyingkap tirai hati, membersihkan batin, mendalami hakikat ilahiah (mukaasyafah) dan berbagai rahasia ketuhanan lainnya.

Kedua golongan ini sama-sama tercela, karena seluruh tindakan dan keinginannya lahir dari dorongan nafsu dan sikap percaya yang berlebih. Mereka menganggap amal ibadah sebagai perbuatan diri mereka sendiri dan yakin bahwa amal ibadah itu pasti akan membuahkan hasil seperti keinginannya.

Berbeda halnya dengan orang ‘arif, yakni yang mengenal Tuhan dengan baik. Mereka tidak bergantung sedikitpun pada amal ibadah yang mereka lakukan. Menurutnya, pelaku hakiki dari semua amal ibadah itu ialah Allah Ta’ala semata, sedang mereka hanyalah obyek penampakan dari semua tindakan dan ketentuan Allah SWT.

Ketika seorang ‘arif mengalami musyahadah (seolah-olah melihat Allah), ia tidak memandang bahwa segala daya dan upayanyalah yang melakukan ketaatan dan kebajikan itu. Baginya tak ada bedanya benar atau salah, taat maupun khilaf, karena ia telah tenggelam dalam lautan tauhid. Rasa takut dan harapnya dalam posisi tetap dan seimbang. Maksiat tak akan pernah mengurangi rasa takutmya pada Allah dan ketaatan tak akan menambah rasa harapnya pada Allah Ta’ala.

Maka dari itu, siapa saja yang tidak mendapati tanda seperti ini dalam dirinya, hendaknya tidak hanya banyak olah batin (riyadhah) tetapi juga banyak berdzikir.