Sebagai santri ndalem yang bertugas membantu rumah tangga kyai, sore itu kang Birrun melaksanakan segala sesuatu seperti biasanya: menyiapkan kayu bakar, memasak dan memeberi makan ternak. Itulah tugas setiap sore kang Birrun meski pun kadang terasa lelah namun ia tetap melaksanakannya dengan sabar dan ikhlas.

“Kang Birrun ,  ayam kalih bebeke ndang dipakani uis sore njengan uga Diniyahn kandawuh ibu Nyai ke kang Birrun. (Terj: ayam dan bebeknya dikasih pakan, sudah sore, kamu juga segera ikut Madrasah Diniyhan), kata Ibu Nyai pada Kang Birrun.

Inggih, Bu, (iya, Bu,)” jawab Kang Birrun.

Setelah selesai menyiapkan kayu bakar, kang Birrun langsung pergi ke kandang untuk memberi pakan ternak.

Sebelum pakan dibagikan, para ternak yang sudah kelaparan segera mengeroyok, sehingga membuat kesal Kang Birrun. Tanpa sadar kaki Kang Birrun menendang sekenanya dan ternyata ada satu ternak yang menggelepar oleh tendangn Kang Birrun. Ternak tersebut tergeletak dan membuat Kang Birrun merasa panik.

“Mbasanu mati? (Apa mati ya? ” bisik Kang Birrun. Di tengah rasa panik dan takut ketahuan Ibu Nyai, Kang Birrun teringat masa lalunya: dulu waktu kecil, kalau ada burung tergeletak jika ditiup ekornya biasanya langsung sadar atau terjaga kembali. Tanpa pikir panjang hewan yang tergeletak itu diambil dan ditiup ekornya oleh Kang Birrun. Baru saja satu tiupan, ayam tersebut langsung terjaga dan menyemprotkan “….” ke wajah kang Birrun.

Kang Birrun segera menghindar, tapi semprotan ayam itu rupanya terlalu dahsyat sehingga memaksa Kang Birrun lari terbirit-birit mencari air untuk membersihkan diri…