Pagi ini awan mendung menyelimuti desaku. Jalanan dan pepohonan pun masih terlihat basah bekas hujan semalam yang cukup deras. Ya, memang bulan ini adalah awal dari musim penghujan. Ciporos, itulah nama desaku. Sebuah desa yang terletak di Kecamatan Karangpucung, Kabupaten Cilacap. Desa ini termasuk desa yang cukup luas, dengan beragam watak penduduknya sampai kisah-kisah yang ada di dalamnya.

Semua murid menunggu bel berbunyi di sekolah pada pukul 06.45. Tapi tidak denganku, pukul 06.45 justru aku sedang menikmati hangatnya balutan selimut yang menempel pada tubuhku, dan tenggelam bersama mimpiku. Namun saat aku terlelap dalam tidurku, aku merasakan ada yang membangunkanku dari mimpi indahku. Disaat membuka mataku ternyata ibuku sudah ada dihadapanku.

Lalu aku bertanya dengan nada malas “Ada apa sih,Bu?bukankah ini masih pagi?” Lalu aku memalingkan pandanganku ke luar jendela dan langit pun masih terlihat gelap.

Lain hal dengan ibuku yang justru menatapku dengan pandangan kesal, lengannya dengan gesit mengambil jam beker yang berada di sebelah ranjangku, lalu menunjukkannya kepadaku seraya berkata “Lihat! Sudah jam berapa ini? anak yang lain sudah berangkat sekolah dari tadi, kamu malah masih ada di tempat tidur”.

Aku pun menatap jam beker yang dipegang oleh ibuku, aku pun membelalakkan mataku ketika aku tahu bahwa jam sedang menunjukkan pukul 06.45. Segera ku bangkit dari tempat tidurku lalu, bergegas untuk bersiap-siap berangkat sekolah, tak ku hiraukan omelan ibuku, karena akan memakan banyak waktu dan membuatku semakin telat jika aku mendengarkannya.

Waktu menunjukkan pukul 07.05 ketika aku sudah sampai di kelas duduk manis dengan napas yang terengah-engah. Jarak dari rumah ke sekolahku memang cukup dekat, sehingga aku hanya perlu lima menit untuk sampai di sekolah. Untung saja jam pelajaran pertama kosong, karena gurunya sedang rapat sehingga aku tidak mendapatkan omelan dari guruku. Omelan ibuku pagi ini sudah membuat moodku buruk apalagi jika ditambah dengan bu guru mengomeliku. Ku akui, hari ini aku cukup beruntung.

Bel tanda berakhirnya aktifitas di sekolah pun berbunyi. Aku keluar dari kelas dengan wajah kusut dan tidak bersemangat. Bagaimana tidak? Aku terlambat berangkat sekolah, lalu mendapat omelan dari ibu. Buku tugas pun sampai lupa kubawa, sehingga guruku menyebutku “pemalas”. Moodku hari sudah hancur.

Langit pun menumpahkan tangisnya, hujan lebat pun turun disertai dengan angin kencang, membuat beberapa pohon menari-nari karena tiupannya. Hujan turun setelah aku sampai dirumah, jadi seragamku masih utuh, tak basah sedikitpun. Hujan membuat rencana kerja kelompokku batal, sehingga aku bingung akan melakukan apa karena hujan lebat membuat jadwal kegiatanku hari ini berkurang. Kebosanan pun hinggap didiriku, akhirnya aku memutuskan untuk mengajak temanku untuk bermain. Dia tetangga disebelah rumahku. Dia seorang anak laki-laki dari seorang qayim sekaligus imam shalat di salah satu masjid di desaku. Namanya Ujang, aku biasa memanggilnya dengan sebutan Aa Ujang (yang dalam bahasa sunda berarti kakak untuk laki-laki)  dia anak yang pintar dan juga sangat pendiam, selisih umurku dengannya sekitar dua tahun dan sekarang dia duduk dibangku kelas 5 SD.

Aku pun mengunjungi rumahnya, hanya halaman rumah kitalah yang menjadi pemisahnya. Aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam, suara perempuan dari dalam rumah menjawab salamku. Tidak lama kemudian pintu pun terbuka, ternyata tadi ibunya yang menjawab salamku.

Kemudian aku bertanya kepada beliau “Tante, apakah A Ujang ada di rumah?” kemudian tante menjawab “Tidak ada, nak. Selepas pulang sekolah dia minta izin untuk bermain sepak bola bersama teman-temannya” jelas si tante (mama dari A Ujang). Aku pun menjawab dengan nada sedikit kecewa “Yah…ya sudah, tante. Tidak apa-apa, kalau begitu aku pamit pulang”. Aku pun pergi setelah mencium tangannya dan memberi salam.

Aku menghabiskan waktuku dengan mengulang kembali pelajaran yang tadi aku pelajari di sekolah. Tak terasa waktu sudah sore, hujan lebat yang tadi mengguyur desaku mulai mereda ketika adzan maghrib berkumandang hanya rintik gerimis yang tersisa dari hujan tadi siang. Ketika aku hendak berwudhu’ di luar (karena kamar mandiku terletak di luar rumah) aku melihat A Ujang berlari memasuki rumah dengan pakaian yang kotor dan basah kuyup. Ketika dia sudah masuk ke dalam rumahnya, aku mendengar dia dimarahi oleh orang tuanya karena terlambat pulan ke rumah, dengan pakaian yang kotor. Sehingga membuat orang tuanya khawatir. Ketika ditanya alasannya dia pulang terlambat, ia hanya diam dan menunduk. Akhirnnya orang tuanya pun jera, karena akan dimarahi seperti apapun juga, dia akan tetap diam, akhirnya orang tuanya pun memerintahkannya untuk segera mandi.

Kedua orang tua A Ulum bergegas pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat maghrib berjama’ah, begitu pula dengan ku. Selepas shalat maghrib berjama’ah, para jama’ah pulang ke rumah masing-masing ada pula yang tadarus Al-Qur’an terlebih dahulu.

Saat hendak memasuki rumahku, kedua orang tua A Ujang berjalan tergesa-gesa ke arahku dengan ekspresinya yang panik, mereka bertanya “apakah kamu melihat Ujang? Dia tidak ada di rumah, dirumah tetangga-tetangga ataupun di rumah teman-temannya. Tolong bantu kami, kami tidak tahu harus mencarinya kemana lagi”. Aku melihat kesedihan dan kekhawatiran raut wajah mereka, tangis  yang tertahan agar tidak pecah di depanku, seketika aku pun ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Rasa khawatir itu masuk begitu saja ke dalam hatiku.

“Aku tidak tahu dia dimana, terakhir kali aku melihatnya ketika dia datang selepas bermain sepak bola. Tenang tante, aku akan bantu tante mencarinya”. Jawab ku yakin. Ada sedikit rasa bersalah karena aku tidak tahu keberadaan A Ujang.

Aku pun mulai mencari A Ujang dan meminta bantuan beberapa warga. Waktu terus bertambah, begitu pula warga yang mencari A Ujang semakin ramai. Beberapa dari mereka ialah bapak-bapak. Rasa persaudaraan diantara kami memang masih terjalin sangat erat, gotong royong dan saling berbagi rasa suka dan duka adalah hal yang biasa untuk kami.

Mereka menyebar, mencari A Ujang ke setiap pelosok desa dengan membawa senter atau obor, ada pula yang membawa kentongan, wajan, ember, baskom dan lain-lain yang kemudian dibunyikan yang bertujuan untuk memanggil kelong atau wewe gombel. Ya, menurut para warga a ulum diculik atau disembunyikan oleh kelong. Sedangkan anak yang sedang diculik atau disembunyikan tidak memiliki kesadaran, mereka seperti sedang terhipnotis. Maka dengan membuat suara gaduh mungkin akan membuat si anak tersadar.

Sampai pukul sepuluh malam A Ujang masih saja belum ditemukan, padahal seluruh warga sudah ikut serta membantu mencari A Ujang. Bahkan ada yang mencari sampai ke desa tetangga, akan tetapi hasilnya nihil. Hingga sampai pukul 23.00 WIB, penduduk masih sibuk mencari keberadaan A Ujang. Beberapa diantara mereka ada yang pulang terlebih dahulu, karena kesibukan yang akan mereka hadapi besok pagi, akan tetapi masih banyak yang masih tetap mencari A Ujang.

Sekitar pukul 23.30 WIB, ada salah satu warga yang berteriak bahwa dia telah menemukan A Ujang. Seketika itu pula warga yang sedang mencari, menghampiri asal suara teriakan tadi. Ternyata benar A Ujang ada disana. Dia sedang berjongkok dengan melamun di balik semak- semak yang ada di belakang rumahnya. Sungguh aneh. Padahal warga desa sudah mengecek ke tempat itu lebih dari tiga kali, tapi tidak menemukan apapun. Tapi syukurlah, tidak terjadi suatu apapun padanya, tidak ada luka pada tubuhnya. Setelah  itu, A Ujang di perintahkan untuk langsung istirahat di rumahnya.

Tapi ada sesuatu yang aneh padanya. Pandangan matanya masih saja kosong. Setelah A Ujang ditemukan dengan kondisi raganya yang baik-baik saja, wargapun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Kedua orang tua A Ujang sangat bersyukur dan mengucapkan banyak terimakasih kepada warga desa karena telah membantu mereka mencari A Ujang. Kemudian Ketua RW berpesan agar menjaga anak-anaknya di rumah, dan apabila sudah masuk waktu sandekala atau menjelang maghrib sebaiknya tetap di dalam rumah. Setelah itu Ketua RW pun berpamitan kepada orang tua A Ujang, begitu pula dengan warga lain, mereka pamit dan langsung menuju ke rumah masing-masing. Keesokan harinya saat aku dan oran lain bertanya bagaimana ia bisa diculik oleh kelong atau wewe gombel, ia pasti menjawab tidak tahu. Bahkan dari ekspresi wajahnya pun seperti tidak terjadi apa-apa semalam.

Begitulah keanehan yang terjadi di desaku, dan masih banyak kisah-kisah mistis lainnya. Sebagian dari kami ada yang percaya, karena mungkin pernah menyaksikan atau merasakannya secara langsung. Sebagian orang pun ada yang menganggapnya hanya dongeng belaka untuk menakut-nakuti anak kecil supaya patuh pada orang tuanya. Jadi bagaimana pendapatmu percaya atau tidak?