PRHangatnya sinar matahari memelukku pagi ini. Ditemani selimut kabut yang menghalangi jarak pandang dan hembus angin yang menerbangkan daun pinus. Pukul 05.15, aku masih senang melihat matahari yang perlahan meninggi meninggalkan Gunung Slamet, Sebelum akhirnya aku ditelfon orang rumah untuk segera pulang.

Dalam perjalanan pulang, tak jarang aku berpapasan dengan petani pinus yang hendak menyadap getahnya. Mereka terlihat bersemangat, buktinya masih pagi seperti ini sudah berangkat. Padahal jika dirasa, menyadap pinus bukanlah pekerjaan yang ringan sedangkan bayaran cukup untuk makan saja

Entah kenapa, tiba-tiba aku ingin lebih mengenal desaku, Desa Sidamulya. Desa terpencil di puncak pegunungan. Aku  memilih jalan lain untuk sampai ke rumah. Jika biasanya aku berjalan melewati jalan beraspal, kali ini aku memutar arah melewat hutan dan persawahan.

Baru sampai di ladang dan persawahan, aku teringat bahwa dulu saat aku kecil, tempat itu bukanlah ladang dan persawahan melainkan bukit kecil hutan pinus. Hingga terjadi tanah longsor hebat di tahun 2010 dan merubah semuanya. Aku menatapnya, lalu melanjutkan perjalanan.

Yang ku lalui sekarang bukan lagi ladang dan persawahan, tapi jalan setapak yang kanan kirinya adalah sungai dan tambak. Aku harus hati-hati melewati jalan setapak ini. Selain sempit, jalan ini licin karena basah sisa hujan tadi malam. Embun di rumput liar membasahi kakiku yang hanya memakai sandal jepit merek nama burung. Aku menggerutu dalam hati, kenapa harus jalan ini yang dipilih tadi.

Setelah berkutat dengan jalan yang licin dan basah,aku sampai di pemukiman. Pemukiman ini terletak di paling selatan desaku, berbatasan langsung dengan hutan yang ku lewati tadi. Terlihat di tengah pemukiman ada mushola bercat hijau. Nurul Iman. Itu nama musholanya. Tempat mengajiku dulu sebelum akhirnya aku pindah karena sekolahku yang jauh.

Aku mematung di depan mushola itu, sebelum akhirnya seseorang mengucapkan salam padaku hingga berbincang sebentar sebelum ia pergi untuk belanja bahan dagangan di pasar. Beliau Pak Udin, guru mengaji dan  tokoh masyarakat di desaku. Pak Udin sering menjadi perbincangan masyarkat. Selain karena kepintarannya dalam ilmu agama, ia di kenal sebagai orang yang aneh. Misalnya saja, dari bentuk rumah. Di tengah tengah pemukiman warga yang mayoritas rumahnya berbentuk kotak, rumah beliau berbentuk segitiga dengan tiang persis di tengah-tengah rumah. Entah di bagian ruang apa. Keanehan lainnya adalah beliau sering mengumandangkan adzan isya pukul Sembilan malam atau  bercerita bahwa beliau mampu melihat muridnya yang sedang belajar atau sekedar main-main ketika beliau tidak rawuh untuk mengajar. Tapi bagaimanapun anehnya, beliau tetap guruku yang harus dihormati.

Setelah Pak Udin pergi, aku melanjutkan perjalanan pulang. Di tengah perjalanan, aku sempat bingung memilih jalan. Ada dua jalan alternative untuk sampai rumahku. Yang pertama tetap mengikuti jalan pemukiman beraspal dan yang jelas di kanan kirinya hanya rumah warga, atau yang kedu  yaitu melewati jalan kecil yang kanan kirinya tebing. Setelah berpikir, aku lebih memilih jalan alternative kedua. Selain lebih cepat sampai, aku juga belum pernah melewatinya lagi sejak aku pindah tempat mengaji.

Sepuluh meter dari pemukiman, aku memasuki kebun kakao milik warga. Mulai dari kebun itu, suasana berubah agak menyeramkan karena sinar matahari sedikit sekali yang menembus daun kakao saking lebatnya. Di tambah ada mata air yang mengalir kecil di lereng tebing dan tanjakan licin. Gelap dan dingin. Belum lagi cerita yang beredar di masyarakat tentang si glindhing pringis yang menunggu tempat ini. Seorang kakek yang melewati jalan ini waktu sore, dan melihat sesuatu yang menggeliding. Setelah dilihat baik- baik, yang menggelinding adalah kepala manusia dengan bibir meringis. Dari cerita itu, msyarakat desaku biasa menyebutnya glindhing pringis. Cerita itu terlintas di ingatanku, sontak aku merinding dan ragu untuk melanjutkan. Tapi jika aku kembali ke jalan tadi, itu membuatku lebih lama sampai ke rumah. Dan aku tau, ibu menunggu sejak tadi. Terbukti dari notifikasi di hp, yang menampilkan missed call dari ibuku.

Kuberanikan melewati jalan kecil itu, benar-benar seram. Dingin langsung menusuk tulangku. Aku berjalan hati-hati takut terpeleset. Aku terus berjalan tanpa berani menoleh. Jangankan menoleh, melirik saja tidak berani. Mulutku terus merapal tasbih, keringat dingin terasa mengalir di sekujur tubuhku. Aku hampir gemetar karena teringat terus dengan cerita itu. Uhuk!. Terdegar suara orang batuk. Pikiranku langsung macam-macam. Muka si kepala yang menggelinding meringis itu terlintas di pikiranku. Meski belum pernah melihatnya, cerita itu sukses membuatku hampir lari terbirit-birit sebelum akhirnya ada suara sesorang memanggil. Aku memberanikan diri menoleh.

“Ah! Kau rupanya, Ndra”  suaraku tertahan. Aku membuang nafas lega. Dia Indra. Teman sekelasku waktu SMP. Dan sekarang ia melanjutkan belajarnya di sekolah yang di dekat rumahnya. Biar tetep bisa bantu orangtua di rumah, katanya. Setelah dia menanyaiku kenapa bisa sampai di sini, aku ceritakan semuanya sambil melanjutkan perjalanan. Dan ia juga menceritakan sedang apa dia di sana. Di jalan kecil, tengah tebing yang licin.

Setelah melewati jalan tadi, kita berdua sampai di jalan pemukiman penduduk. Dan di pertigaan jalan, aku dan Indra berpisah. Ia belok kanan, sedang aku lurus saja. Aku berjalan lebih tenang dari sebelumnya. Yang akan kulalui ini hanya pemukiman. Tidak ada lagi jalan setapak kecil atau jalan kecil di tengah tebing dengan tanjakan kecil. Aku bergidik mengingat jalan yang telah ku lalui. Ku lirik jam tangaku, pukul 06.00. Aroma masakan sayur pakis dari salah satu rumah warga tercium olehku. Asapnya mengepul dari cerobong dapur, membuatku tak sabar sampai kerumah dan segera makan.

Pukul 06.15, baru sampai. Mengetahui kedatanganku, adikku berlari menyambut dan menyerangku dengan pertanyaan yang sampai membuatku bingung untuk mejawab. Untunglah ibuku datang dan mengajakku sarapan. Bersyukur aku atas itu, aku tak perlu repot menjawabi pertanyaan adikku.

Aku masih penasaran dengan desaku. Ada banyak hal yang belum kutahu meski sejak kecil aku tinggal di sini. Di tambah aku yang sekarang bersekolah jauh dari desaku dan pulang jika libur semester, menambah kebutaanku dengan desa sendiri. Aku bertanya pada ibuku, apakah ada hal menarik dari desaku, dan ibu menjawab ada bahkan banyak. Aku semakin penasaran. Baiklah, liburan depan aku akan menyusuri desaku dan menemukan hal menarik yang takan ku temukan di tempat manapun, pikirku.