Maulana Al Habib Luthfi bin Yahya dalam satu kesempatan pernah ditanya oleh seorang murid thoriqoh yang kebingungan dan bimbang menqenai Guru Mursyidnya, yakni:

  1. Apakah mengikuti pengganti mursyid setelah mursyidnya wafat dan sedang dipersiapkan anak beliau sebagai penerusnya ataukah
  2. Mencari mursyid lain sebagai penggantinya.
Magnetism, karya Ahmad Mater

Maulana menjawab, “Di dalam peraturan thariqoh diantaranya adalah harus meneruskan dan tidak melepaskan apa yang telah didapati dari awal atau sebelumnya. Sekalipun penerusnya masih muda, lebih baik diikuti. Justru kalau kita sayang dengan Guru kita, di samping kita menimba ilmu dari anaknya sebagai penerus, kita juga harus menjadi pendamping dirinya dalam melestarikan ajaran yang telah diterima. Jika kita lebih tua usianya dibanding anak beliau maka disitulah kita bisa saling mengisi kekurangan masing-masing”.

“Dalam hubungan kita dengan anaknya tersebut kita akan mempunyai tugas ganda. Pertama, tetap mengikuti ajaran sang ayah. Kedua, memelihara ajaran sang ayah. Jika kita mencari Guru lain yang satu thariqoh, lazimnya kita hanya meneruskan, tidak perlu berbaiat lagi. Jadi, dengan alasan karena sang pengganti gurunya masih muda dan dianggap belum cukup pengalaman, maka kita boleh menimba ilmu dari mursyid yang lain dalam satu thariqoh. Kalau pun kita ingin menimba ilmu di lain thariqoh, diperbolehkan, tetapi dengan kesadaran tidak meninggalkan thoriqoh sebelumnya.”