Menjadi perempuan adalah sebuah perjalanan. Memang, kita lahir sebagai bayi perempuan, kemudian pada umumnya, kecuali dalam kasus-kasus langka dimana seseorang berganti kelamin, kita akan tetap menjadi perempuan sampai akhir hayat kita. Namun menjadi perempuan itu, apa artinya? Bukankah ada 1001 cara untuk menjadi perempuan? Setiap hari, sepanjang hidup kita, sekian imaji perempuan yang sangat beragam disajikan pada kita: lewat keluarga, masyarakat sekitar, sahabat, guru, tontonan, bacaan, iklan, lagu… Yang manakah yang kita pakai untuk membentuk keperempuanan kita sendiri, dan dengan cara apa?

Para seniman dan santriwati dalam Pameran Ta’zir

Menjadi santri adalah satu di antara sekian pilihan dalam perjalanan hidup seorang perempuan. Identitas gender kita memang bukan sepenuhnya berada dalam genggaman kita sendiri, tapi dibentuk oleh nilai masyarakat tempat kita dibesarkan. Namun tetap saja, setiap individu memiliki ruang untuk menentukan pilihan. Umumnya, masuk pesantren bukanlah terjadi atas dasar paksaan, tapi sebagai pilihan sang calon santri sendiri. Keputusan seorang perempuan untuk mondok di pesantren, adalah momen penting dalam perjalanan gendernya. Menjadi santri akan menghasilkan sosok perempuan yang berbeda, daripada pilihan-pilihan lain yang tersedia.

Pameran Seni Rupa Ta’zir

Menjadi seniman pun bukan tidak terkait dengan pembentukan gender. Memasuki dunia seni membawa tantangan tersendiri bagi perempuan. Bukan karena kemampuan berkeseniannya kalah dengan laki-laki – bakat dan minat seni tidak memiliki batas gender. Namun kerapkali dunia seni terkesan urakan, kelewat bebas, dan tidak mengenal jam malam, sehingga menimbulkan kecemasan: pantaskah lingkungan dan pergaulan semacam itu bagi seorang perempuan? Tentu saja kesan itu tidak sepenuhnya benar. Seniman sangat beragam, termasuk dari segi gaya hidupnya. Namun tetap saja, dapat dibayangkan bahwa stereotipe seniman yang sudah telanjur terbentuk di masyarakat, disertai gaya hidup dan jadwal berkegiatan yang memang tak jarang berbenturan dengan aturan pondok, menjadi tantangan yang tidak ringan bagi santri perempuan yang memasuki dunia seni.

Namun di luar tantangan-tantangan teknis dalam menjalani proses belajar sebagai seorang mahasiswa seni sekaligus santri semacam itu, apa arti berkesenian bagi seorang perempuan, khususnya santri perempuan? Dan apa kaitannya dengan perjalanan pembentukan gendernya? Bagi kelima perupa perempuan yang bergabung dalam pameran Ta’zir ini, kesenian menjadi ruang berefleksi, baik mengenai pengalaman hidup di pesantren dengan segala suka-dukanya, maupun mengenai nilai-nilai yang diperoleh lewat pendidikan pesantren tersebut. Berkarya memberi mereka kesempatan untuk mencerna proses pembentukan diri mereka sebagai perempuan Muslim lewat pendidikan khas pesantren, lalu menerjemahkan pengalaman dan pemahaman mereka ke dalam imaji yang bersifat individual dan kreatif, sebagai tambahan terhadap reproduksi pengetahuan yang memang sudah terjadi dalam keseharian di pesantren, misalnya lewat kegiatan mengaji Qur’an dan kitab kuning, setoran hafalan, diba’an, dan sebagainya. Lewat karya yang dipamerkan, renungan tersebut kemudian dibagi dengan orang lain, sehingga memungkinkan proses refleksi tersendiri bagi orang lain tersebut. Dengan kata lain, berkarya menjadi bagian dari kegiatan da’wah, dalam bentuk yang luwes dan tidak dogmatis.

Refleksi mengenai apakah yang disajikan dalam pameran berjudul Ta’zir ini? Ta’zir, yaitu hukuman yang diberikan pada seorang santri apabila ia melanggar peraturan pondok, hadir baik sebagai bagian dari pengalaman sehari-hari yang direpresentasikan lewat karya, maupun dalam bentuk renungan lebih jauh mengenai pengalaman tersebut, misalnya dengan memaknainya sebagai bagian dari penempaan yang membentuk mental yang tangguh dan berani bertanggungjawab. Salah satu bentuk ekspresinya adalah dengan menghadirkan “pasal-pasal” aturan fiksional yang menimbulkan kesan lucu sekaligus reflektif, seperti misalnya “Pasal 23” ini: “Kalau tidak pulang tepat waktu, akan dipulangkan ke rumah calon mertuanya” (karya Indah Fikriyyati). Dengan bermain-main, pelanggaran aturan serta ta’zir bagi seorang santri putri dihubungkan dengan kehidupan rumah tangganya suatu saat kelak. Apakah memang ada hubungannya? Ini pertanyaan berat, sekaligus sekadar gurauan. Gurauan semacam ini mencerminkan sikap yang matang dan santai: ta’zir dipersoalkan lewat karya bukan sebagai pemberontakan, tapi dengan bergurau menertawakan diri.

Pameran Seni Rupa Ta’zir

Bahwa penempaan yang dialami sebagai santri, lebih-lebih sebagai santri sekaligus mahasiswa seni, sering tidak mudah dijalani, tercermin dalam banyak karya. Adin Fahima Zulfa dan Ittaqi Fawzla misalnya, menghadirkannya dalam bentuk imaji seorang santri yang kesepian dan merasa berbeda sendiri di tengah teman-temannya, sampai ia bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan pondok. Sangat menarik bahwa meskipun berat dijalani, kelima perupa pesantren ini memberikan makna positif terhadap proses penempaan tersebut. Mereka berfokus pada hikmah yang mereka peroleh, dalam bentuk sikap-sikap keseharian yang menjadi bekal kehidupan: kesabaran, usaha keras, keikhlasan. Dalam karya Luai Ihsani Fahmi, kertas-kertas berisi hal-hal yang batal, gagal, belum selesai, atau belum pasti – sketsa, catatan, mimpi, cita-cita – diterbangkan ke atas bersama balon-balon. Bukankah ini menjadi ilustrasi nilai keikhlasan yang amat kuat, sekaligus mudah dicerna? Segala usaha dan impian, diterbangkan ke atas, diserahkan sepenuhnya kepadaNya.

Perjalanannya sebagai perempuan tentu tidak akan berakhir di momen seorang santri keluar dari pondok. Sejauh mana nilai yang diperolehnya di pesantren, akan seterusnya membentuk keperempuanannya di saat ia memasuki fase-fase kehidupan yang baru, misalnya di dunia kerja dan dalam rumah tangga? Ilmu yang dipelajari dan sikap hidup yang dibentuk di pondok dapat diharapkan menjadi pegangan. Namun tanpa refleksi personal demi menyesuaikan bekal yang dibawa dari pondok dengan kondisi khusus perjalanan hidup masing-masing, pegangan tersebut belum tentu akan menjadi bermanfaat. Di sinilah kita dapat belajar dari kelima perupa perempuan pesantren ini: agar menjadi pegangan, maka nilai-nilai yang ingin kita junjung tinggi perlu terus-menerus dicerna dan diterjemahkan ke dalam imaji-imaji yang bermakna secara personal bagi diri kita masing-masing.

Pameran Seni Rupa Ta’zir