Dalam sambutan di Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes-NU) di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Banjar, Pesiden Joko Widodo mengemukakan sikap bangga dan gembira dengan keberadaan NU di Indonesia.

Presiden Jokowi mengapresiasi Nahdlatul Ulama (NU) yang selalu berada di garis depan kebangsaan Indonesia, baik dalam merebut kemerdekaan maupun dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia melalui bingkai ukhuwah insaniah (persaudaraan antar mansusia) ukuhwah wathaniah (persaudaraan kebangsaan) maupun ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim).

Menjelaskan pentfngnya peran dan misi NUdi atas, Presiden Jokowi bercerita tentang pertemuannya dengan Ibu Negara Afghanistan. Ibu Negara tersebut berkisah tentang negaranya bahwa 40 tahun lalu Afghanistan adalah negara dengan cadangan emas, gas dan minyak terbesar di dunia. Namun, gara-gara pertikaian 2 suku besar, negara tersebut dilanda perang saudara yang tak berkesudahan, terlebih masing-masing pihak membawa rekan dari luar. 

Presiden Jokowi melanjutkan; Afghanistan hanya memiliki 7 suku besar, ketika 2 di antaranya saling berperang, maka hancur seluruh negeri. Sedang Indonesia memiliki 714 suku, oleh karena itu perlu lebih berhati-hati terhadap segala konflik yang terjadi karena rekonsiliasi pasca perang teramat sulit dilakukan. Dalam pearng, terdapat 2 pihak yang paling dirugikan, yaitu wanita dan anak-anak. Segala konflik, lanjut Jokowi, perlu diselesaikan sedini mungkin.

Musyawarah Besar nahdlatul Ulama (Munas NU) di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, banjar, berlangsung mulai 27 Februari – 1 maret 2019. Tema besar Munas NU adalah “Memperkuat Ukhuwah wthaniah untuk Kesdaulatan Umat.”