Pramoedya Ananta Toer

/1/

Salah siapa jika ada anak sekolahan tidak tahu Pramoedya Ananta Toer, satu-satunya sastrawan dari Indonesia yang menjadi nominator Nobel Sastra dan termasuk sedikit orang Indonesia yang mendapat penghargaan Ramon Magsaysay Award?

Seandainya waktu itu kakakku tidak membawakan buku-buku dari Jogja ketika aku masih duduk di bangku MTs, yang kutahu barangkali hanya LKS (Lembar Kerja Siswa). Sebab, di sekolahanku tidak ada yang memperkenalkan buku-buku selain LKS. Ada memang di sana sebuah perpustakaan, tetapi perpustakaan itu tutup, bahkan sepanjang hari. Lalu di bangku MA, aku bisa memasuki perpustakaan, yang tentu saja isinya bisa ditebak: buku-buku kurikulum dan sedikit sekali buku-buku selain itu.

Aku tahu Pram pertama kali dari buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2 ketika masih MTs. Buku yang menceritakan bagaimana ia dan kawan-kawannya di penjara. Sedikit peristiwa ketika ia dipenjara di Jakarta (kalau salah silakan dikoreksi), Nusakambangan, dan banyak peristiwa ketika ia dipenjara di Pulau Buru. Awalnya, aku tertarik dengan buku itu karena membaca catatan kematian di akhir halaman. Di situ ada daftar kematian orang-orang yang ada di penjara beserta penyebab kematiannya dan aku menemukan satu orang yang membuatku ingat sesuatu. Orang itu dari Senori, sebuah kecamatan tempat aku lahir. Sementara itu, entah kebetulan atau bagaimana, suami saudara nenekku hilang secara misterius tepat di zaman Orde Baru. Mungkin waktu itu aku sedang mengait-kaitkan sesuatu yang tidak ada kaitannya. Bisa saja suami saudara nenekku itu hilang bukan karena dibawa ke Pulau Buru, tetapi memang hilang karena dibunuh oleh seseorang yang entah siapa, atau hilang bukan karena dibunuh, tetapi memang benar-benar hilang (kalimat apa sih ini). Lalu, karena itulah aku membaca dari awal halaman dan aku benar-benar menemukan kengerian di sana.

Waktu MA, kakakku mengirimiku buku-buku lagi. Ada dua karya Pram di situ: Arus Balik (novel yang latar tempatnya di Tuban) dan Bumi Manusia. Akhirnya, aku tahulah sedikit-sedikit mengenai Pram.

Di kelas, teman-temanku tidak ada yang tahu Pram (ini fakta, bukan sedang sok tahu sendiri). Di sekolahan kami, atau khususnya di LKS Bahasa Indonesia kami, hanya ada beberapa sastrawan yang sering dikenalkan: Chairil Anwar, Sutarji, Sapardi, Taufiq Ismail, dan sedikit saja yang lainnya. Pram tidak ada di sana (ada sih, tapi cuma sebatas biografi dan itu sangat sangat singkat). Kami malah lebih akrab dengan Andrea Hirata, Tere Liye, Habiburrahman, JK. Rowling, A. Fuadi, Dee Lestari, yang walaupun tidak ada di LKS, buku-buku mereka beredar dari satu tangan ke tangan yang lain (sistemnya; satu buku dipinjam banyak orang).

Ya, seandainya kakakku tidak membawa buku-buku waktu itu, barangkali sampai lulus sekolah aku tidak akan tahu Pram lebih lanjut.

Sungguh maklum jika ada anak sekolahan tidak mengenal Pram. Karena Pram termasuk sastrawan yang ditolak kurikulum. Di zaman apa pun, baik zaman masih ada banyak orang-orang bermain kelereng dan loncat karet, sampai zaman orang-orang main tik tok sambil menggoyangkan dua jari, anak-anak sekolahan susah mengenal Pram.

Jadi siapa yang salah? Apakah anak sekolahan itu? Belum tentu. Apakah guru-guru yang tidak memperkenalkan tokoh-tokoh sastra di sana? Belum tentu. Sebab, aku masih ragu setiap guru di Indonesia mengenal Pram. Pemerintah? Mungkin saja. Sejumlah orang yang mengkanonisasi sastra? Mungkin saja.

Sebenarnya aku merasa geli membaca komentar anak-anak sekarang mengenai film Bumi Manusia. Dari mereka ada yang mengira kalau film Bumi Manusia adalah adaptasi dari novel karangan Tere Liye. Ya, memang Tere Liye mengarang buku berjudul Bumi, tapi tidak ada ‘Manusia’-nya (atau jangan-jangan sebentar lagi Tere Liye menerbitkan buku berjudul Manusia?). Dari mereka juga ada yang mengira kalau Pram adalah penulis yang baru terkenal dan novelnya baru mau difilmkan.

Apakah anak ini keliru telah berkomentar seperti itu? Apakah anak ini micin? Kebanyakan es kepal milo? Dia benar-benar tidak tahu dan aku yakin bukan hanya dia yang tidak tahu, tetapi banyak sekali anak yang seperti dia; tidak mengenal Pram. Di sekolahan, mereka tidak dikenalkan pada Pram dan karya-karyanya. Pram tidak ada di sekolahan. Pram tidak ada di kurikulum.

Tapi, lagi-lagi tapi, aku berpikir ulang setelah berpikir ulang itu. Lah, anak ini kan punya kuota (dengan bukti bisa berkomentar di Instagram), kenapa tidak mencari di Google terlebih dahulu. Kenapa langsung nyerocos macam gitu?

Aku pun menyadari akhirnya. Aku hidup pada zaman orang-orang terlalu banyak berkomentar ketimbang mendengarkan.

/2/
Pada suatu hari sebelum film Dilan diluncurkan, banyak orang menyepelekan Iqbaal. Mereka mencibir dengan alasan; Dilan orangnya urakan, sementara Iqbaal pembawaannya kalem. Iqbaal terlalu unyu, sementara Dilan wajah-wajah preman. Dilan lucu, sementara Iqbaal diragukan kelucuannya (mungkin karena ia masih dipandang sebagai anggota Coboy Junior yang uwuwuwu). Dan tentu saja masih banyak alasan-alasan lain yang belum aku tuliskan di sini. Tetapi setelah film itu bisa dinikmati di bioskop, dan bahkan bisa dinikmati di dunia maya, orang-orang mengakui kemampuan Iqbaal memerankan Dilan. Mungkin, ketika memerankan Minke dalam Bumi Manusia pun juga akan begitu. Orang-orang mencibir dan dan mereka belum tahu kalau ternyata nanti hasilnya memuaskan.

Itu adalah termasuk alasan kenapa orang-orang setuju Iqbaal menjadi Minke. Katanya, kita harus adil sejak dalam pikiran (sebagaimana ungkapan Pramoedya Ananta Toer). Masa film belum jadi kita sudah menilai film ini bakalan tidak bagus? Harus adil dong!

Akan tetapi, permasalahannya, adil tidak bisa diutarakan begitu saja. Itu seperti menerima apa adanya tanpa berpendapat lebih lanjut.

Lalu siapa yang cocok? Kamu? Atau Reza Rahardian? Sudahlah, kita terlalu sering melihat Reza dalam perfilman Indonesia.

Maaf, aku tidak akan berpendapat kalau Reza Rahardianlah yang pantas. Sebab, Minke dalam Bumi Manusia umurnya masih belasan. Kita tahu sendiri bahwa Reza sebentar lagi ubanan dan tentu saja ia sudah saatnya berperan sebagai bapak-bapak dalam film mana pun. Haha.

Kalau nggak suka Bumi Manusia difilmkan Hanung dengan Iqbaal sebagai Minke-nya, ya buat film sendiri.

Itu adalah pernyataan yang konyol. Untuk mengeluarkan pendapat mengenai cocok tidaknya Iqbal memerankan Minke, atau layak tidaknya Hanung sebagai sutradara dalam film Bumi Manusia, kita tidak perlu bisa membuat film terlebih dahulu. Untuk mengkritik presiden, kita tidak harus jadi presiden terlebih dahulu. Untuk mengkripik pisang, kita tidak harus menjadi kripik pisang. Apaan ya.

Sangat wajar ketika orang yang sudah membaca Bumi Manusia khawatir ketika mendengar kabar buku itu akan difilmkan dan Iqbaal berperan sebagai Minke. Terlebih ketika beberapa bulan yang lalu kita disodori film Dilan (yang aromanya masih ada sampai kini) dan Iqbaal sebagai pemerannya.

Lihat, ketika kabar Bumi Manusia akan difilmkan dengan Iqbaal sebagai Minke-nya, banyak sekali meme bertebaran mengenai penggabungan antara parikan Dilan yang digabung dengan sesuatu yang ada di buku Bumi Manusia.

Beberapa aku catat:

Dia adalah Minkeku, 1920

Annelis, kamu cantik. Tapi aku belum mencintaimu. Entah kalau nanti negara kita sudah merdeka.

Kamu Annelis, ya? Aku ramal, kita akan bertemu di Pulau Buru (dalam buku itu sebenarnya tidak ada perkenalan antara Minke dan Annelis di Pulau Buru, tetapi aku rasa meme ini tetap penting aku cantumkan).

Kita telah melawan, Nak Dilan. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Itu adalah beberapa meme yang menjelaskan bahwa kita masih mencium aroma Dilan. Masih belum bisa melepaskan parikan Dilan begitu saja.

Jadi sangat wajar menurutku jika ada yang protes kenapa Iqbaal berperan sebagai Minke di situ. Dan, ya, tidak cuma itu sih. Masih ada beberapa alasan kenapa mereka protes (kok mereka ya, kan aku juga termasuk yang minta kejelasan kenapa harus Iqbaal). Salah satunya adalah kenapa harus Hanung Bramantyo yang menjadi sutradara dalam film itu? Bukankah film-film garapan Hanung kebanyakan menonjolkan sisi percintaan saja? Nah, itulah. Tentu saja pembaca Bumi Manusia khawatir kalau nanti film Bumi Manusia yang ditonjolkan hanya sisi percintaannya saja. Ih apasih.

/3/
Aku termasuk orang yang selalu tidak puas terhadap film Indonesia adaptasi dari novel. Sebab, imajinasiku mengenai alur cerita, tokoh-tokoh, dan perangkat-perangkat lainnya dalam novel itu akan akan dimentahkan di sana. Ya, kecuali Kugy yang diperankan Maudy Ayunda dalam film Perahu Kertas.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya Bumi Manusia difilmkan. Tentu imajinasiku mengenai Minke, Annelis, Darsam, Nyai Ontosoroh, akan sangat berbeda dengan yang di film. Dan aku tidak menyukai hal itu. Sebagaimana aku tidak suka Soe Hok Gie diperankan oleh Nicholas Saputra. Ini masalah pribadi.

(Lah, kan filmnya belum jadi. Kok, kamu bisa berkomentar seperti itu?

Lah, kan aku cuma khawatir. Khawatir boleh dong.)

Bumi Manusia hendak difilmkan sudah sejak tahun 2004 oleh Riri Reza. Entah kenapa kok bisa gagal pada akhirnya. Kemudian pada tahun 2014, Hanung Bramantyo mendekati keluarga Pram dan di tahun 2018 barulah kabar film Bumi Manusia itu mencuat.

Hanung tentu saja sedang melakukan perjudian di sini. Menggunakan barang-barang kuno untuk keperluan film Bumi Manusia tentu tidak murah harganya. Di balik itu, ia juga harus siap menanggung komentar pedas dari para penggemar Pram jika film adaptasinya gagal. Di balik itu lagi, ia juga harus menanggung risiko kalau seandainya film itu tidak laku (maka, aku mengira, itulah alasan kenapa ia memilih Iqbal sebagai pemeran Minke-nya dan aku yakin jamaah Iqbal sudah tidak bisa diragukan lagi jumlahnya). Jika film ini tidak laku, rugi lagi dong. Kemarin kan kita sudah tahu kalau film garapannya (Benyamin Biang Kerok) gagal tayang dan ruginya tentu tidak sedikit.

Sesungguhnya aku tidak menyalahkan itu semua; Hanung yang jadi sutradaranya atau Iqbaal yang jadi Minke-nya. Aku hanya khawatir saja. Mengkhawatirkan bukan berarti menyalahkan, bukan? Apalagi pas tahu kalau Hanung tidak perlu meyuruh Iqbaal membaca buku Bumi Manusia, cukup diberi pakaian adat saja.

Aku memang bukan pembaca seluruh karya-karya Pram. Aku juga bukan fans garis kerasnya. Aku juga bukan pengkoleksi karya-karyanya. Tetapi aku tahu, dari hatiku paling dalam, kalau novel Dilan jauh berbeda dengan Bumi Manusia. Sehingga rasa khawatir itu tentu saja muncul, bahkan secara spontan.

/4/
Ada beberapa hal yang unik terjadi setelah Bumi Manusia resmi mau difilmkan dan Iqbaal berperan sebagai Minke-nya.

Pertama, tagar bumi manusia jadi trending di twitter. Menyitir perkataan Muhiddin M. Dahlan, ini adalah kejadian pertama kali di Indonesia.

Kedua, banyaknya remaja-remaja yang menanyakan siapa itu Pram. Dan banyak dari mereka yang tiba-tiba memposting qoute-quote Pram.

Ketiga, banyaknya remaja yang mencari buku itu di toko-toko buku.

Barangkali memang inilah jalur satu-satunya, yaitu jalur populer, untuk memperkenalkan Pram kepada kalangan yang lebih luas, khususnya para remaja. Sebab, Pram tidak dikenalkan di sekolahan-sekolahan. Pram adalah musuh negara sejak dulu. Ketika dunia mengakuinya, ia masih dianggap hantu di negara sendiri.

Barangkali setelah ini sudah tidak ada lagi anak-anak sekolahan yang menanyakan siapa itu Pram. Tidak mengatakan kalau film Bumi Manusia adalah adaptasi dari novel Tere Liye (yang notabene sangat akrab dengan mereka). Barangkali. Barangkali saja.

Mau protes kalau nanti film ini hanya mementingkan pasar dan tidak mementingkan kedalaman? Boleh sih. Tapi, kita harusnya sadar sejak awal, kalau kepopuleran kebanyakan bertentangan dengan kedalaman. Yang populer kebanyakan hanya ramai di permukaan dan kopong di dalamnya.

Kita berdoa saja, semoga Pram dikenal oleh lebih banyak kalangan karena film itu.

Sudah ya, Dilan, eh, Minke. Aku telah berpendapat semampuku. Selebihnya, biarkan semesta bekerja.

Mari baca bukunya lagi. Kalau belum punya, buruan beli sejak sekarang. Sebab nanti pasti ada buku Bumi Manusia bergambar Iqbaal.