Sarung. Ia bukan hanya pakaian, melainkan simbol kaum santri di Nusantara ini. Kalau ada santri tidak pernah memakai sarung bisa diragukan kesantriannya. Dari pagi sampai pagi lagi para santri hampir tak bisa lepas dari sarung. Juga apapun aktivitasnya, mulai beribadah, mengaji, makan dan minum, bahkan ke kamar kecil pun memakai sarung. Sampai-sampai main sepakbola pun santri mengenakan sarung!

Melihat bentuknya, sarung adalah kain berbentuk persegi yang disambung kedua sisinya hingga menyerupai tabung. Sarung bagi sebagian masyarakat Indonesia dikenal sebagai bawahan, pakaian adat dan terutama pakaian ala santri.

Tapi, sarung bukan hanya milik kaum santri. Sarung sudah ada sejak sebelum Islam masuk ke Indonesia. Umat Hindu sejak dulu sudah menggunakannya hingga sekarang, seperti warga Bali menggunakan sarung bermotif kotak-kotak seperti papan catur yang disebut poleng, juga digunakan untuk pakaian bawahan.

Selain sebagai bawahan dan untuk beribadah, sarung juga memiliki beberapa kegunaan lainnya, seperti selimut, menggendong bayi, seprei, bahkan alas saat berhubungan suami-istri bagi pasangan yang tidak mempunyai alas dan kasur, serta digunakan untuk bungkus pakain kotor. Di kalangan anak-anak sarung suka digunakan untuk penutup wajah ala ninja. Beda lagi di kalangan orang tua terutama bapak-bapak yang digunakan untuk penghangat tubuh di saat sedang ronda jaga malam.

Jika kita mengamati bentuknya, sarung mengandung filosofi yang unik dan tinggi. Kain sarung bentuknya sederhana, namun dari segi corak/motifnya amat kaya dengan detail yang apik. Sudah seharusnya pemikiran kita dalam berinteraksi di tengah masyarakat yang kompleks hendaknya seperti corak sarung tersebut, yaitu senantiasa berbuat baik dan apik dengan memberikan manfaat bagi sesama.

Sedangkan makna sarung tanpa karet, kancing dan resleting yang mengekang badan, artinya kita semestinya bersikap fleksibel, tidak kaku dalam bergaul. Dan gulungan sarung di perut mengisyaratkan supaya kita tetap kuat menjaga silaturahmi antar sesama.

Dari sebuah sarung kita bisa belajar akan pentingnya sikap sederhana dan luwes dalam menjaga silaturrahim antar sesama, juga bersikap fleksibel sehingga dapat memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa secara lebih erat melalui ukhuwah islamiah dan ukhuwah wathaniyah yang indah. Mungkin kain sarung tidak semahal permata, namun menyimpan kekayaan makna budaya Nusantara yang tak terkira.