Aku masuk ke dalam kamar dan kubanting pintu sekeras mungkin. Sambil terisak dan menyeka mata aku memandang wajahku sendiri di cermin kamar dengan air mata mengalir. Aku sambil menggeram dan menginjak-injakan kakiku sendiri dengan rasa jengkel. Dalam hati aku berkata “ mengapa? Mengapa aku mempunyai impian itu, dan mengapa alam bawah sadarku selalu memotivasiku. Kenapa aku seorang gadis yang terlalu berharap tinggi dengan impianku. Kenapa orang tuaku tidak sependapat denganku, di mana letak kesalahanku? Dimana letak kecerobohanku dalam menentukan pilihanku”. Aku bertanya pada didriku sendiri sambil terisak tangis di depan cermin merasa terpukul, tertimpa rasa kecewa dan ditempa delima dalam menentukan pilihan.
           

Sejak kejadian kemarin, aku mendekamkan diri di kamar. Setiap pagi aku hanya akan keluar sebentar. Tidak melirik makanan dan tidak berkomunikasi terlalu banyak dengan ibuku, tapi bukan berarti aku marah dengannya.  Aku hanya merasa dan berfikir dimana letak kesalahanku?  Mengapa dia tidak meridhoiku. Sampai dua hari aku mendekamkan diri di kamar. Setiap jam delapan pagi aku tetap tidak meninggalkan rutinitasku untuk menunaikan salat Duha. Aku selalu memohon kepada Allah agar diberi petunjuk, diberikan jalan yang terbaik. Aku menghabiskan waktuku hanya untuk berzikir dan bermunajat kepadaNya. Setiap malam aku mengerjakan salat malam disertai Istikharah. Aku mencurahkan dan menceritakan semua perasaan dan pikiranku kepadaNya. Aku seolah berkomunikasi denganNya di Qiamul Lail dan menunggu jawaban dalam Istikharahku. Dalam doaku akau berkata “ Ya Rabb jika impianku untuk menuntut ilmu di pesantren modern Darul Islam, Jombang yang jauh dari rumahku itu menurutmu baik maka dekatkanlah Ya Rabb, tapi sebaliknya apabila impianku itu tidak baik atau jelek menurtmu maka jauhkanlah. Serta tetapkanlah yang baik untukku di mana saja asal di pesantren Ya Rabb, kemudian jadikanlah aku ridho dengannya.”

Saat itu pula alam bawah sadarku memotivasiku lagi, alam bawah sadarku membakar jiwa dan pikiranku, pagi itu aku bersemangat untuk tetap mewujudkan dan merealisasikan impianku. Aku berkata pada diriku sendiri untuk memberi semangat karena dari kemarin telah lelah mendekam di kamar dan menguras air mataku yang membuat mataku menjadi sembab. Seraya dalam hati aku berkata “ aku akan menjadi Sang perantau ragawi, yang akan menuntut ilmu di pesantren yang jauh dari tempat tinggalku dan aku akan mewujudkan impianku dengan bermodal tekad dan niat. Akau harus meninggalkan tempatku dan menginjakkan kaki di tanah yang berbeda dengan tanah yang ku injak sekarang. Di waktu Duha ini aku telah membulatkan tekadku.” Aku berusaha berdamai dengan diriku sendiri. Melupakan kejadian kemarin dan membuka lembaran baru, memulai hari yag baru dengan kepercayaan dan tekad yang kuat.

Hari – hari terus berlalu, begitu terasa lama jika  ditunggu. Lembar demi lembar pengumuman kelulusan mungkin sedang dicetak dan siap untuk diumumkan kepada  siswa di seluruh sekolah. Saat itu pula aku mulai memberanikan diri untuk meminta pendapat dengan ibuku, aku ingin berbicara dengannya lagi. Aku berusaha mencari waktu yang baik, menurutku yaitu saat aku membantu ibuku memasak. Aku menegaskan dan mengulangi lagi bahwa saat pengumuman sudah diumumkan aku ingin melanjutkan pendidikanku di pesantren modern Darul Islam, Jombang, Jawa Timur. Ibuku hanya diam dia seolah tidak mendengarkanku.

Aku berkata lagi kepada ibuku, itupun sedikit merengek sambil menangis lagi kepada ibukuku. Entah kenapa aku menangis, entah karena aku takut atau aku terlalu cengeng dan berharap dikasihi. Tapi yang ada dalam pikiranku saat itu adalah Kenapa ada seorang ibu yang melarang anaknya untuk menimba ilmu di pesantren, kenapa ada seorang ibu yang tidak ridha dengan anaknya yang haus akan ilmu agama. Kenapa? Padahal Rasulullah menyuruh agar kita menunut ilmu sampai ke negeri Cina. Dan Imam Syafi’i berkata agar kita meninggalkan tempat kita untuk merantau maka engkau akan mendapatakan pengganti kerabat. Hanya itu yang ada dalam pikiranku saat itu. Tanpa ku sadari ibuku memandang wajahku dengan tatapan yang belum pernah aku lihat sebelumnya, dari sorot matanya yang berbeda dan wajahnya yang sudah mulai berkeriput menanggung beban dan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu sekaligus kepala rumah tangga. Dia berkata pelan tapi dalam menembus sampai ke uluk hati dan tak terasa air matanya telah mengalir membasahi pipinya.

Dia berkata kepadaku “ Nak, kau hanya seorang anak perempuan dari pelosok desa, kau perempuan yang hanya patut membantu ibumu di dapur, kau hanya gadis yang tidak patut terlalu tinggi berharap dengan impianmu. Ibu tahu niat dan impianmu adalah sungguh mulia. Tapi di sisi lain ibu mengkhawatirkanmu nak, ibu tidak rela engkau meninggalkan ibu sendirian dan engkaupun sendirian di sana. Siapa yang akan mengawasimu? Bagaimana denganmu di sana?”. Saat itu pula kedua pasang mata mulai menumpahkan air mata.

Aku sakit, aku perih entah mengapa aku sangat merasa terpukul. Itukah alasan ibuku melarangku untuk tidak bersekolah jauh? Yang dia pikirkan hanya mengkhawatirkan diriku, diriku dan diriku. Dimana letak kepercayaan seorang ibu kepada anaknya yang menuntut ilmu di pesantren? Pastinya aku akan mendapatkan lingkungan yang lebih baik, bukankah kebanyakan orang tua menyarankan bahkan memaksa anaknya untuk di pesantren. Tetapi justru sebaliknya dengan ibuku dia justru melarangku untuk di pesantren. Aku jadi bingung apakah aku termasuk golongan anak yang durhaka karena aku menentang ibuku. Aku bingung, sungguh bingung. Saat itu pula aku pasrahkan semuanya, dan aku sudah tidak bisa berkata dan bertanya lagi. Dalam hati aku berdoa “ ya Allah berikan hambamu ini jalan keluar dan kuatkanlah hatiku ya Allah dan luluhkanlah hati ibuku semoga dia meridhoiku di manapun aku menuntut ilmu ya Allah perkenankanlah doaku.” Hanya air mata yang mengalir yang mewakili kata- kata dan bahasa hatiku.

Tiba – tiba ibuku mulai berbicara dengan sorot mata yang teduh lagi- lagi berbeda dengan biasanya “ tapi ingat nak, di manapun engkau belajar engkau harus sungguh – sungguh jangan meremehkan hal sekecil apapun. Percuma jika engkau sekolah jauh – jauh di pesantren tapi kau tidak sungguh – sungguh. Saat surat kelulusan besok sudah diumumkan kau bisa langsung mendaftar di sekolah yang kau impikan. Ibu meridhoi dan mengizinkanmu tapi asal  kau tetap ingat pesan ibu tadi yaitu kau harus sungguh-sungguh. Besok setelah pengumuman, kita akan siapkan persyaratan dan keperluan pendaftaran bersama.”

Aku tidak percaya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut ibuku sendiri, hatiku tidak karuan mungkin itu semua jawaban dari semua doa-doaku setiap waktu. Semua tidak bisa dijelaskan, lagi – lagi hanya air mata yang menetes sambil aku mencium tangan ibu dan memeluknya erat. Nasihat untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu sungguh menjerumus masuk ke dalam sampai uluk hati yang paling dalam. Kata-kata itu akan selalu menjadi senjata. Akan menjadi cambuk bagi diriku saat aku jatuh dan terpuruk dia lah yang akan mengingatkanku.Ibuku melepaskan pelukanku dan menyertainya dengan senyum keyakinan dan optimis bahwa yang dikatakanya barusan adalah keputusan yang baik untuk putrinya. Akupun membalas senyuman serta sambil meneteskan air mata.

Setelah pengumuman kelulusan diumumkan, lagi-lagi aku bersyukur kepada Allah karena aku mendapatkan nilai yang memuaskan. Aku percaya ini adalah manisnya setelah melewati pahitnya perjuangan yang maksimal, dan juga tidak hanya itu di samping ikhtiar ada doa pastinya. Tidak jauh dari hari itu aku dan ibuku mempersiapan untuk mendaftar di pondok pesantren modern Darul Islam Jombang, Jawa Timur. Perjalanan dari Tanjung Jabung Barat, Jambi  memakan waktu sekitar empat hari. Itu karena menggunakan bus antar provinsi. Di antaranya bus yang aku tumpangi adalah bus SAN, dan bus PUTRA REMAJA. Sungguh perjalanan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Berawal dari impian untuk merantau, yang sebelumnya tidak diizinkan. Empat hari adalah perjalanan panjang yang baru aku rasakan pertama kali selama pengalaman naik bus. Lika-liku perjalanan dan lelah, pegal, pengap semua terasa bahkan sampai pantat pegal  karena bus hanya singgah sebentar. Terik matahari yang menenmbus kaca mobil saat itu membangunkanku. Aku sunggh kaget karena bus sudah berada di tujuan, bus sudah menginjakkan rodanya di tanah jawa. Tanah yang aku bidik untuk menuntut ilmu. Terlihat jelas di depan mataku sebuah gedung di depan lensa mataku, sangat besar dan megah bercat orange pekat. Dengan hilir mudik santriwati sedang melakukan aktivitas mereka masing-masing.

Tak lama kemudian, setelah hari seleksi dengan tes dan segala macam seperti wawancara dan tulis. Pengumuman pun diumumkan. Lagi – lagi aku bersyukur karena Allah memang telah membawa jalan hidupku ke sini, aku diterima sebagai santriwati pondok pesantren Darul Islam, Jombang. Ibuku pun harus kembali ke Jambi karena waktu seleksi sudah selesai. Ini adalah perpisahan yang mungkin perpisahan sementara bagiku. Ibuku berpamitan kepadaku dia hanya menampakan wajah cerah dengan senyum optimis disertai jatuhnya bulir air mata, aku pun mencium tanganya dan memeluknya sambil memohon maaf atas segala kesalahan dan meminta didoakan setiap lima waktu. Kali ini tidak berlamaan ibuku sudah membelakangiku dan siap untuk naik ke bus. Tidak ada kata yang keluar tapi bahasa yang terlihat dari wajah dan tubuhnya memberikan arti agar aku baik-baik di pondok. Selalu optimis dan istiqamah, seraya menegaskan nasihat yang pernah terucapkan kala itu.

Jarum jam terus berputar, hari demi hari, bulan demi bulan bahkan tahun demi tahun. Aku telah melewati manis dan pahitnya perjalananku menimba ilmu berbagai ujian dan cobaan telah kulalui. Suka duka telat kulahap yang bahkan bisa aku jadikan bahan tantangan hidup, misiku dalam menuntut ilmu sungguh benar-benar aku jalankan. Nasihat dari ibu, ustaz dan para uztazah di pondok aku jadikan pegangan dan senjata untuk melalui segala rintangan. Sampai pada akhirnya saat ini aku sedang berada dalam roda kehidupan posisi atas. Aku menjadi salah satu santriwati yang aktif dalam kegiatan ekstra, saat itu aku mengikuti dan aktif dalam ekstra bidang jurnalistik. Aku sudah beberapa kali mendapatkan kepercayaan untuk mewakili pondok pesantren untuk ikut lomba baik tingkat provinsi maupun karesidenan.

Saat itu aku memang menggeluti bidang jurnalistik karena aku rasa itu sesuai bakat dan kemampuanku, dari situlah muncul keinginanku untuk bisa melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi, tapi aku berkecil hati aku sadar bahwa ibuku di rumah yang menanggung semuanya. Sudah cukup aku merepotkannya, maka dari itu aku hanya bisa berdoa kepada Allah jika memang Ia berkehendak aku percaya pasti akan ada jalan asalkan aku juga mau berusaha. Salah satu dari usahaku saat itu adalah dengan mengikuti KIR dari suatu universitas, aku berharap itu adalah langkah awal untuk bisa melanjutkan impianku. Dan sekali lagi aku bersyukur karena Allah Yang Maha Pemurah memberikan rizki-Nya itu. Ibuku sangat bangga, ia sadar bahwa pilihan dan cita-cita anaknya sungguh membawa berkah kehidupan. Dari kejuaraan lomba tersebut aku mendapatkan paket umroh dan aku persembahkan untuk ibuku tercinta. Dalam doaku aku berkata “ Ya Rabb sungguh engkau telah mengangkat derajat orang yang berilmu dan menuntut ilmu, akan aku kembalikan pula kepadamu segala nikmat yang telah kau berikan dengan mempersembahkan paket umrah untuk ibuku sebagai balas budiku kepada ibuku atas segalanya. Aku tahu mungkin ini belum cukup untuk membayar semua yang telah ibu berikan padaku bahkan tak bisa terbayarkan.

Saat ibuku sedang menunaikan ibadah umrah aku mendapat undangan untuk mengikuti Youth Exchange Program Indonesia – Singapura sebuah program pertukaran pelajar. Itu adalah hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Oh! Sungguh aku sangat bersyukur dan sangat berterimakasih mungkin ini doa dari ibuku yang sedang berada di Baitullah.

Hembusan angin fajar yang berbeda, suasana dan lingkungan yang berbeda di waktu fajar aku terbangun,berusaha mengalahkan nafsu untuk bangkit dan mengambil air wudu. Dan mulai mengerjakan salat sunah dua rakaat dilanjutkan salat subuh.Dalam sujudku di tanah yang berbeda lagi bukan tanah air tercinta Indonesia melainkan tanah Singapur. Dalam sujud aku berdoa “Terimakasih Ya Allah engkau telah mengabulkan doa-doaku, engaku mewujudkannya di waktu yang tak pernah kuduga. Hamba percaya engkau selalu memberikan apa yang dibutuhkan bukan yang diinginkan hamba-Mu. ”